Panen Kutawaluya Capai 7 Ton per Hektare - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Panen Kutawaluya Capai 7 Ton per Hektare

Panen Kutawaluya Capai 7 Ton per Hektare

Written By Mang Raka on Selasa, 10 Mei 2016 | 13.30.00

KUTAWALUYA, RAKA - Kecamatan Kutawaluya mulai melakukan panen raya. Petani bisa mendapatkan hasil 7 ton per hektare dari beragam varietas.
Pemilik sawah di Kutagandok Kutawaluya Karawang, Tawawi menyebutkan, wilayahnya mulai melangsungkan panen perdana dengan waktu tanam Januari hingga Mei. Bobot yang didapatnya perhektar di tiap sawah bisa mencapai 6 hingga 7 ton. Mekongga, adalah varitas padi yang ia pakai. Melalui 6 sampai 7 kali penyemprotan dengan jarak 10 hari, padi yang ia rawat menggunakan pestisida berupa insect, PPC, dan Fungisida. "Abasel, bulir, dan scor jenis pestisida yang umum digunakan," katanya kepada Radar Karawang, Senin (9/5).
Dalam setahun sawahnya bisa panen dua kali. Panen berikutnya yakni dari Juli hingga September. Jika dalam kondisi bagus, bisa mencapai 8 ton. Selain itu, untuk memanen 1 hektare sawah ia membutuhkan waktu 1 hari dengan tenaga kerja 5 orang. Pembiayaan yang ia tanggung mulai dari traktor, pengolahan tanah, nampingan, perataan Rp 800 ribu per hektar untuk 2 orang selama rentang waktu 15 hari kerja. "Setelah itu baru tandur, dan penyemprotan," ungkapnya.
Pada musim panen seperti ini, tentunya banyak diantara petani memiliki pengalaman kerjasama penjualan hasil panen. Namun sedikit diantaranya berhubungan dengan PT. Pertani. Sebab batasan pembelian terhadap varitas padi berlisensi atau resmi yang diakui pemerintah. Umumnya, PT. Pertani hanya membeli kedua varitas padi, yakni Ciherang, dan Mekongga.
Aku dia, kelebihan dari varitas jenis itu terletak pada proses yang dilakukan pihak Pt Pertani yang berhenti di Bulog. Setelahnya, masyarakat dapat menkonsumsi beras tersebut. Berbeda dengan padi yang diproses di tengkulak, meski kualitas yang dihasilkan menyerupai. Tetapi, perbedaan yang paling mencolok terletak pada harga. Harga padi dari petani yang dijual kepada tengkulak relatif lebih mahal. "Jika penjualan ke tengkulak Rp 4.900, ke PT Pertani selisih lebih rendah Rp 300," pungkasnya. (cr3)  
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template