Lulusan SMA Kurtilas Bikin Repot Guru - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Lulusan SMA Kurtilas Bikin Repot Guru

Lulusan SMA Kurtilas Bikin Repot Guru

Written By Mang Raka on Rabu, 25 Mei 2016 | 13.30.00

-Biaya Bengkak dan Nambah Pekerjaan

TEMPURAN, RAKA - Bagi lulusan SMA dan SMK yang masih menerapkan Kurikulum KTSP 2006, mungkin tidak terlalu banyak kerepotan saat memasuki Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Pasalnya transkip nilai siswa sudah tersusun rapi. Namun, beda hal nya dengan lulusan SMA versi Kurikulum 2013. Para guru dibikin repot dengan keharusan membuat skala penilaian dalam bentuk satuan sekaligus juga melampirkan puluhan sebagaimana amanah Permendikbud Nomor 53 tahun 2015.
Wakasek Kurikulum SMAN 1 Tempuran, Melvi Andayani S.Is mengatakan selama 3 tahun terakhir, SMA Tempuran yang menjadi satu dari 6 SMA proyek percontohan penerap Kurtilas sukses meluluskan angkatan pertama tahun ajaran ini. Meskipun belum mengantongi Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional (SKHUN) seperti yang KTSP format ijazah Kurtilas sudah tersusun baku. Memang, kata dia, ada perbedaan dengan KTSP dalam sistem nilai yang dikelompokan.
Hanya saja para lulusannya saat hendak masuk ke Saringan Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SMPTN) dua nilai dalam rapot harus dicantumkan, baik yang satuan maupun yang sudah dikonversikan ke puluhan. Sehingga pihak sekolah menyodorkan dua model nilai yaitu yang satuan dan skala puluhan. Ini yang cukup membuat repot untuk melengkapi Pangkalan Data Siswa (PDS). "Mungkin perguruan tinggi sudah memahami yang kurtilas. Mereka minta dua skala dilampirkan dalam saringan masuknya," tandas dia.
Selain itu tambah Melvi, rapor siswa juga harus dikonversikan dengan mencetak ulang. Meski demikian, khusus di Tempuran, dari 308 siswa peserta UN, hanya 10 persen saja yang dikabarkan mendaftar kuliah di Perguruan Tinggi sehingga tidak banyak garapan. "Rapor juga harus dicetak ulang karena dikonversi. Kita ya patuhi saja sama Permendikbud Nomor 53 tahun 2015 ," jamin dia.
Wakasek SDM SMAN 1 Tempuran, Asep Suherman S.pd mengatakan, se Indonesia yang menerapkan Kurtilas sebanyak 1.500 sekolah. Semunya mungkin senasib karena selama pelaksanaan, ikut menambah kerjaan manajemen sekolah perihal konversi nilai dari semester 1. Disisi lain, biaya pelaksanaan Kurtilas juga mengalami pembengkakan terutama dalam pembuatan rapot. Sementara dana dekonsentrasi untuk kurtilas sendiri tidak pernah turun ke SMA Tempuran kecuali pada tahun pertama. Ia berharap, meskipun sudah jadi resiko sekolah percontohan, setidaknya di masa mendatang bisa tertanggulangi. "Ya intinya nambah pekerjaan," jelas pria ini. (rud)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template