Kondisi Miris Madrasah di Pelosok - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » , » Kondisi Miris Madrasah di Pelosok

Kondisi Miris Madrasah di Pelosok

Written By Mang Raka on Jumat, 27 Mei 2016 | 12.00.00

-1 Ruangan untuk 5 Kelas
-5 Guru Merangkap Semua Pelajaran

KUTAWALUYA, RAKA -Madrasah Nurul Amal di Kutawaluya tetap berdiri kendati keadaannya sudah memprihatinkan. Ruang kelas yang terbatas, atap yang bocor, dan minimnya tenaga pengajar menjadi masalah yang urung terselesaikan hingga detik ini.
Guru Kelas 2 Madrasah Nurul Amal di Dusun Bedeng RT 06 RW 02 Desa Kutajaya Kecamatan Kutawaluya Rosmaeni mengatakan bahwa pengabdiannya di sekolah sejak tahun 1991 memberikan ketenangan hidup. Namun kendati hanya ingin mengabdi, tetap saja kondisi ruang kelas yang tidak memadai menjadi hambatan dalam proses belajar mengajar. Ruangan yang terdiri dari 2 ruang kelas, dan 1 kantor tersebut kerap banjir ketika hujan mengguyur. "Kalo sudah hujan, proses belajar mengajar jadi terganggu," katanya kepada Radar Karawang, Kamis (26/5).
Akhirnya, jika kebanjiran, anak didiknya ikut dilibatkan membersihkan ruangan. Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) kian pun terhambat jika melihat pada kemapuan sekolah yang tak cukup menampung para murid. Kelas satu belajar di kelas, sedangkan kelas 2 belajar di masjid. Sementara kelas 3 hingga kelas 6 belajar dalam satu ruangan di Aula Masjid Nurul Amal yang tepat berada di samping madrasah. "Karena ruang kelas terbatas, proses belajar di satu ruangan sampai tumpang tindih dengan kelas lain. Satu ruangan ini hanya disekat oleh papan," tuturnya.
Ia juga mengatakan bahwa kondisi ini sudah berlangsung lama. Selain bangunan yang tak layak, pengajar juga hanya berjumlah 5 orang merangkap seluruh mata pelajaran. Tidak jarang, karena jadwal mengajar bentrok, 1 kelas terpaksa ditinggal. "Sangat banyak kendala dalam mengajar di madrasah ini, terutama fasilitas, dan tenaga pengajar," terangnya.
Kepala Sekolah Suhendi menyebutkan minimnya keuangan madrasah menjadi faktor utama mewujudkan pendidikan yang memadai. Menurutnya, tiap gaji pengajar Rp 125 ribu per bulan, dan sering dibayar per tahun. Sebab itu, pembangunan lokal madrasah maupun penambahan guru pengajar tertahan. Ketidaktahuan prosedur pengajuan menjadi hambatan lain. "Belum pernah madrasah ini dikunjungi pemerintah. Meskipun besar harapan untuk membangun madrasah agar lebih layak. Tapi, mau ngajuin kemana, ke siapa, saya tidak tau prosedurnya," jelasnya. (cr3)  
 
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template