Gerakan Sadar Jamban Dianggap tak Mempan - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Gerakan Sadar Jamban Dianggap tak Mempan

Gerakan Sadar Jamban Dianggap tak Mempan

Written By Mang Raka on Sabtu, 21 Mei 2016 | 15.30.00

TELAGASARI, RAKA - Warga sepanjang saluran irigasi Layapan-Tempuran nampaknya masih terbiasa menggunakan sarana irigasi untuk keperluan Mandi Cuci Kakus (MCK). Kendati saat ini pemerintah tengah gencar mencanangkan gerakan sadar jamban, mayoritas masyarakat bahwa tak tahu jika ada sosialisasi dan program tersebut. Mereka beralasan penggunaan irigasi untuk MCK sudah dilakukan turun temurun.
Tokoh Pemuda Desa Pasirkamuning, Aden Viary Mubarok mengatakan bahwa program sadar jamban yang beberapa waktu terakhir dideklarasikan di desa-desa, belum terlihat pengaruhnya secara signifikan. "Cek saja, masih banyak warga kalau pagi dan sore mandi, cuci piring bahkan BAB disitu. Itu kenyataan yang tidak bisa dibantah bahwa susah untuk menghilangkan kebiasaan tersebut," kata dia.
Maka dari itu, gerakan sadar jamban semestinya tak sekedar jargon dan gerakan sporadis tak sistematis. Menurutnya, justru yang paling penting dilakukan ialah dengan memberikan kesadaran secara utuh kepada masyarakat. "Bukan malah bikin acara seremonial deklarasi begitu. Enggak akan ada efeknya," tutupnya.
Pemerintah hendaknya memberikan sosialisasi kepada masyarakat bantaran irigasi bahwa MCK di irigasi tidak dibenarkan. Kemudian, sambung dia, hendaknya menggandeng para tokoh masyarakat dan sosok berpengaruh di tiap-tiap dusun yang wilayah irigasinya sering digunakan MCK untuk bersama-sama melarang atau mencegah masyarakat MCK di saluran air.
Akan tetapi dia mengingatkan pemerintah pula bahwa sebenarnya permasalahannya bukan warga tidak ingin maju. Namun, keterbatasan pompa air dan sumur-sumur air membuat mereka menggunakan irigasi sebagai sarana MCK. "Kenapa warga banyak yang pakai irigasi, karena pompa airnya mereka gak sanggup beli. Kemudian, keberadaan sumur-sumur juga tidak mencukupi untuk mensuplai air besih kepada mereka. Alasannya lagi-lagi klasik, mereka tidak punya air untuk beli pompa dan bikin sumur," jelasnya.
Tak cukup bila sosialisasi tanpa dibarengi kerja nyata dan upaya yang kongret. Bisa saja, jika pemda memang serius meminimalisir banyaknya warga yang MCK di irigasi, buat saja di masing-masing titik sumur-sumur air dan pompa yang nantinya akan mensuplai 5-10 rumah. "Saya yakin kalau itu dilaksanakan, tak usah disuruh juga mereka dengan sendirinya akan berhenti menggunakan irigasi sebagai MCK," tandasnya.
Sementara itu, menurut Angga Sugianto, warga Pondok Bales, Pasirkamuning menyatakan bahwa kebiasaan masyarakat ber MCK di irigasi susah dihentikan. "Mereka sudah turun temurun disini. Siapa yang bisa melarang mereka," tanyanya keheranan. Akan tetapi, ia memahami maksud baik pemerintah mencegah warga menggunakan irigasi sebagai MCK. Karena selain berbahaya, juga rentan memicu berbagai macam penyakit jika terpapar air kotor apalagi sampai mengkonsumsinya untuk keperluan rumah tangga. "Namanya juga air buangan, siapa saja bisa membuang sampah, limbah atau apapun itu. Jelas saja bisa berbahaya buat kesehatan," singkatnya menyudahi. (fah)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template