Cerita Mantan Kalapas Karawang di Nusakambangan - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Cerita Mantan Kalapas Karawang di Nusakambangan

Cerita Mantan Kalapas Karawang di Nusakambangan

Written By Mang Raka on Selasa, 24 Mei 2016 | 17.39.00

Rayuan Uang, Alphard, Hingga Diterkam Macan Tutul

NUSAKAMBANGAN dikenal sebagai pulau penjara. Bahkan, mendapat julukan baru sebagai pulau eksekusi. Sipir yang biasanya digambarkan menjadi penguasa penjara dalam berbagai film, sangat bertolak belakang dengan kondisi pulau penjara itu.
Petugas lapas harus bekerja ekstra keras untuk memantau perilaku napi yang kerap menjajal nyali sipir. Kondisi alam Nusakambangan juga mengancam nyawa.
Seperti diungkapkan oleh mantan Kepala Lapas Karawang yang kini menjadi Kalapas Batu Nusakambangan Abdul Aris, ada beberapa narapidana narkotika yang ternyata saat tes urine itu hasilnya positif. ”Dia masih menggunakan narkotika di Lapas,” jelasnya, kemarin.
Kondisi itu, tentunya membuat orang awam berpikir bila sipir yang memasukkannya. Sehingga, yang terancam itu justru sipir. Entah bisa dipecat atau malah dipidanakan. ”Ini salah satu kelakuan dari narapidana yang memang tidak bisa ditolelir. Saya langsung isolasi napi itu selama sebulan. Biar kapok,” tutur Kalapas Karawang 9 Januari 2014-11 Mei 2016 itu.
Menurut dia, belum tentu sipir yang melakukannya. Justru, bisa jadi pengunjung memasukkan narkotika dengan cara yang hingga saat ini masih misterius. ”Kami belum mengetahui caranya bagaimana. Tapi, yang pasti pengecekan badan itu dilakukan hingga ke alat vital pengunjung,” tuturnya.
Tidak hanya napi yang menjadi ancaman bagi sipir. Bahkan, kondisi alam liar di Nusakambangan juga menjadi faktor x yang mengancam jiwa sipir dan keluarganya yang tinggal di Nusakambangan. Pantauan wartawan di lapangan, memang sepanjang jalan di Nusakambangan sebagian besar diiringi pohon besar. Rerumputan yang begitu tinggi menampakkan banyak area yang belum terjamah. Sering kali ada hewan liar yang kerap terlihat, dari babi hutan hingga ular. Bahkan, macan tutul juga sering terlihat di pulau seluas 121 kilometer persegi tersebut. Sapi yang dibiarkan liar milik sejumlah sipir juga bisa menjadi ancaman, karena kerap menghadang di jalan. Aris menceritakan, pernah suatu kali dirinya menjumpai macan tutul saat akan menuju ke Dermaga Sodong. Macan tutul itu seperti akan menerkam dirinya. ”Seandaianya saya pakai sepeda motor, tentu nyawa terancam. Tapi, karena pakai mobil, jadi aman,” ujar lelaki asal Demak tersebut.
Bahkan, sapi-sapi milik sipir juga kerap kali menjadi ancaman tersendiri. Sapi-sapi itu kerap di tengah jalan dan membuat sipir terkejut. ”Kondisinya menjadi berbeda, kalau kami sedang membawa narapidana. Bisa jadi, malah terlambat sekali karena sapi,” paparnya.
Kisah lain diungkapkan Hendra Eka Putra, yang baru tiga hari melepas jabatan Kalapas Pasirputih, Nusakambangan. Dia kerap menghadapi rayuan gombal dari narapidana. Khususnya, narapidana narkotika yang menggunakan uang untuk meminta perlakuan istimewa.  Hendra mengaku pernah ditawari akan diberi Rp 10 juta oleh narapidana narkotika. ”Dia ingin memberi uang itu ke saya. Tentu saja, pasti ada udang  di balik batu,” jelasnya.
Hendra mengetahui, kalau uang itu diterima, maka kehormatannya sebagai seorang Kalapas akan runtuh. Tidak ada lagi rasa hormat dari para narapidana. ”Saya tolak uang itu, karena saya sudah janji tidak boleh menerima suap,” ujar tutur Kalapas kelahiran Palembang tersebut.
Bahkan, anak buahnya sempat juga yang melaporkan kalau ada narapidana yang menawari sebuah mobil Alphard. Untuk mobil mewah itu, narapidana itu meminta agar handphone jammer atau alat pengacak sinyal di lapas dimatikan setiap hari. ”Ini godaan berat yang harus dilalui para sipir Nusakambangan,” ungkapnya. (jp/psn)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template