Warga Mampu Banyak Pakai Gas 3 Kg - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Warga Mampu Banyak Pakai Gas 3 Kg

Warga Mampu Banyak Pakai Gas 3 Kg

Written By Mang Raka on Jumat, 22 April 2016 | 14.30.00

PURWAKARTA,RAKA- Kelangkaan gas elpiji 3 kilogram (Kg), akhir-akhir ini kembali terjadi. Diduga, salah satu penyebab terjadinya kelangkaan ini, karena banyaknya masyarakat yang menggunakan gas untuk warga kurang mampu ini. Sampai-sampai, orang yang mampu pun memakai gas ukuran 3 Kg, sehingga ketika warga kurang mampu membutuhkan, kehabisan stok.
Wakil Bupati Purwakarta, Dadan Koswara, mengingatkan pangkalan agar selektif menjual gas kepada pengecer. Bahkan, jika dimungkinkan, dia meminta pangkalan untuk menjual gas langsung kepada konsumen terakhir. Itu untuk memotong jalur pengecer yang mengakibatkan perbedaan harga pasar yang kentara. "Semua pihak harus arif menghadapi persoalan ini. Aturan jika kita jalankan tentu akan lancar-lancar saja," ujarnya.
Saat ini, kelangkaan gas ukuran 3 kilogram kembali terjadi di Kabupaten Purwakarta. Persoalan ini ramai menjadi keluhan pelanggan yang kebanyakan berasal dari segmen ekonomi menengah ke bawah dan sudah sejak tiga minggu terakhir. Bahkan pengguna sosial media Purwakarta banyak menyampaikan keluhan tersebut melalui akun-akun sosial media milik mereka. Menurut Dadan, sebenarnya persoalan konsumen gas 3 kilogram harus kembali didata. Karena banyak ditemukan di lapangan konsumen yang sebenarnya mampu membeli gas ukuran 12 kilogram malah menggunakan gas 3 kilogram. "Dalam sensus ekonomi bulan depan, kita akan dapat mengetahui kemampuan ekonomi masing-masing anggota masyarakat. Dari situ dapat kita petakan anggota masyarakat mana saja yang sebenarnya sudah mampu membeli gas ukuran 12 kilogram dan mana yang 3 kilogram. Saya yakin kalau tepat sasaran permasalahan ini akan segera terselesaikan," paparnya.
Sebelumnya, Sartika (30), warga Kecamatan Plered, mengeluhkan kelangkaan gas 3 kilogram ini. Kalaupun ada, harganya bisa mencapai Rp24ribu pertabung di tingkat pengecer. Artinya, harganya jauh melebihi harga eceran tertinggi(HET) yang ditetapkan pemerintah daerah setempat Rp19ribu/tabung. "Kelangkaan gas melon terus menerus terjadi. Kemarin sudah stabil, sekarang gas sulit lagi. Entah ada persoalan apa kami tidak tahu. Bayangkan saja karena gas melon sulit, saya tidak bisa memasak sudah dua hari ini," keluhnya.
Menurut dia, stok gas melon di warung-warung terdekat habis. Agar bisa memasak, warga harus mencari gas melon ke luar desa menulusuri jalan dari warung satu ke warung lainnya. "Jika pun ada harga gas juga melangit. Gas melon rata-rata dijual Rp24ribu/tabung sekarang ini," tabah ibu satu anak itu.
Warga Plered ini menyebut, selain akibat langka, mahalnya gas melon juga disebabkan perilaku pangkalan nakal yang menjual gas melon di atas HET ke pengecer. Seperti pangkalan gas yang ada wilayah Desa Palinggihan, Kecamatan Plered. Pangkalan itu, menjual gas 3 kilogram ke warung-warung Rp19ribu/tabung, dari seharusnya Rp16ribu/tabung. "Kalau ada pangkalan menjual Rp19 ribu/tabung kepada pengecer maka jelas tidak akan ada warung yang menjualnya sesuai HET. Sebelum langka, gas dijual di tingkat pengecer Rp22 ribu-Rp23 ribu/tabung, dari seharusnya Rp19 ribu/tabung," pungkasnya. (rm/cr2)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template