Perempuan Tegalwaru Tulang Punggung Keluarga - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Perempuan Tegalwaru Tulang Punggung Keluarga

Perempuan Tegalwaru Tulang Punggung Keluarga

Written By Mang Raka on Sabtu, 23 April 2016 | 14.30.00

TEGALWARU, RAKA - Srikandi di jaman pewayangan sebagai penentu kemenangan pandawa terhadap korawa dalam perang bharatayuda. Di jaman sekarang Srikandi menjadi pengibaratan sosok wanita perkasa yang menjadi tulang punggung keluarga. Sosok-sosok seperti ini hampir memenuhi rumah-rumah warga di Kecamatan Tegalwaru. Hampir semua kaum perempuan di wilayah itu bekerja dan menjadi sandaran perekonomian keluarga.

Selain menjadi tenaga-tenaga kerja wanita di luar negeri (TKW), rata-rata kaum perempuan di Tegalwaru bekerja sebagai petani wanita dan buruh pabrik. Berdasarkan data pemerintah Kecamatan Tegalwaru dan Pangkalan sekitar 1,87%  perempuan di dua kecamatan tersebut menjadi TKW dan bekerja di berbagai negara, seperti negara-negara Asia, Timur Tengah dan kota-kota industri di Indonesia.
Sementara 0,83% peranan perempuan di sektor pertanian pun menjadi hal terpenting, serta di sektor formal seperti menjadi Guru, dan instansi-instansi pemerintahan sekitar 0,79%. Lalu menjadi tulang punggung seutuhnya karena single Parents (orang tua sendiri) karena di dasari oleh suami meninggal dunia dan perceraian menduduki peringkat pertama sekitar 1,53%.
Samsiah (24) Warga kampung Lamping, Desa Medalsari yang menjadi Orang tua tunggal menyampaikan. Dirinya harus berjibaku dengan waktu agar bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik selepas di tinggal suaminya meninggal agar anak-anaknya bisa terus bersekolah,Dirinya tidak menampik jika kesulitan ekonomi menjadi hal yang serius dalam kehidupan. "Jika tidak mau berusaha dan mampu berdiri tidak akan ada siapapun yang mau membantunya sampai anak saya dua orang itu selesai menghabiskan waktu sekolahnya. Saat ini kegiatan yang saya kerjakan apapun itu yang penting halal dan tidak merepotkan orang lain, dari berjualan di rumah, menerima pesanan penganan hingga pekerjaan mencuci pakaian dan kadang turun ke sawah," katanya.
Lain lagi dengan, Siti Fatoha (30), salah seorang wanita super dari Cibeureum Desa Tamansari yang kini menggeluti pertanian, menerangkan, kemampuan yang saat ini dirinya telateni adalah bercocok tanam. Dia tinggal suami sekitar 11 tahun lalu dan meninggalkan tiga anak. Akan tetapi berkat kesabaran dibantu oleh anak yang tertuanya maka dirinya bisa melewati waktu hingga mampu menyelesaikan sekolah anak pertamanya hingga selesai SLTA. "Saya nikmati saja. Awal-awal di tinggal meninggal suami sempat kebingungan meski bagaimana menghadapi dan menghidupi ketiga anak saya. Namun saya tidak mau patah semangat maka saya meneruskan pertanian milik suami. Sampai sekarang bahkan dibantu anak saya yang paling tua, kami bisa melintasi hari-hari dengan baik," ucapnya.
Lain dengan Tuti Maesaro (34), pahlawan devisa yang nyaris tidak pernah dibahas pada momen Kartini pun mengungkapkan, dirinya bahkan harus bisa gigih dalam berupaya meningkatkan status sosial yang lebih baik di mata masyarakat. Dia meluangkan waktunya selama 3 tahun menjadi pekerja wanita di Timur Tengah, terpaksa melakukan itu semua karena suami mengalami kecelakaan hingga cacat. "Kalau saya ikhlas dengan apa yang saya dapatkan. Kini, kesulitan kami menjadi berkah tersendiri bahkan kami dan suami tak henti-henti bersyukur," ucapnya. (yfn)

Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template