Lewat Batam, ABG Karawang Dijual ke Singapura - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Lewat Batam, ABG Karawang Dijual ke Singapura

Lewat Batam, ABG Karawang Dijual ke Singapura

Written By Mang Raka on Sabtu, 09 April 2016 | 17.30.00

Kasus perdagangan anak di Kabupaten Karawang bagai fenomena gunung es. Hanya sedikit yang terungkap, namun sebenarnya banyak kasus yang terjadi. Muladi dari dipaksa orangtua untuk jadi pengemis, hingga menjerat ABG perempuan di dunia prostitusi.
Baru-baru ini, Polres Karawang menemukan dugaan perdagangan anak di tempat hiburan malam. Temuan ini bermula ketika kepolisian melakukan razia di salah satu tempat karaoke di Jalan Interchange Karawang Barat. Di sana ada seorang ABG berinisial SN (16) menjadi pemandu lagu plus-plus. Kasat Reskrim Polres Karawang AKP Doni Satria Wichaksono mengatakan, pihaknya akan melakukan pengembangan dengan memanggil penyedia (mucikari) dan pengelola THM tersebut. “Mereka bisa kita jerat dengan Undang-Undang Perlindungan Anak dan Undang-Undang Trafficking, jika memang sejumlah bukti mengatakan ada pemaksaan dan kesengajaan dari penyedia dan pengelola,” ungkapnya.
Lain lagi yang terjadi di beberapa titik lampu merah di perkotaan Karawang dan Cikampek. Pedagang di bawah flyover Cikampek, Neneng (35) mengatakan setiap hari anak jalanan dan gepeng bebas berkeliaran di bawah flyover Cikampek, tepatnya di belakang kantor Pospol Dishubkominfo. "Seharinya itu, menurut penuturan salah seorang anak yang dipekerjakan oleh orangtuanya, sehari harus menyetor seratus sampai dua ratua ribu. Kan kasihan," bebernya.
Bagian Pemulihan Tunas Sosial Dinas Sosial Kabupaten Karawang Damanhuri mengatakan, ada sekitar 82 gepeng yang berkeliaran di Karawang. Data tersebut jauh berbeda dengan kondisi di lapangan, karena secara kasat mata pengemis mulai membanjiri Karawang. "Kita sudah sering melakukan razia dan pembinaan, tapi hasilnya saat ini pengemis malah bertambah," terang Damanhuri.
Ia melanjutkan, pihaknya kesulitan membina pengemis dan anak jalanan karena tidak adanya rumah pembinaan di Karawang. Saat ini rumah tersebut hanya ada di Bekasi dan Cisarua. "Untuk bisa masuk rumah pembinaan Bekasi dan Cisarua harus satu keluarga. Jadi pengemis yang bisa masuk sana, harus lengkap satu keluarga, tidak bisa sendiri-sendiri," kata Damanhuri.
Berdasarkan informasi yang berhasil diperoleh, Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Batam, Setyasih Priherlina mengatakan, Karawang menjadi salah satu daerah pemasok anak-anak di bawah umur untuk dijual ke Malaysia dan Singapura melalui Batam. "Selain Karawang ada juga dan Papua," ungkapnya.
Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto mengatakan anak jalanan rentan jadi objek seksual, objek ekonomi, objek kekerasan dan pedagangan.
Ia menjelaskan, anak jalanan setidaknya terbagi dalam 4 tipologi. Pertama, anak yang tereksploitasi. "Ia di bawah tekanan dan sulit untuk keluar lingkaran jaringan eksploitasi," ucapnya. Kedua, anak jalanan yang terpaksa mencari rezeki di jalan untuk menyambung hidup. Baik untuk menyambung hidup orang tua, adiknya, atau pun dirinya sendiri. "Tak sedikit anak terpaksa mengamen, karena ayahnya meninggal/cerai, sementara ibunya sakit-sakitan tak ada yang menanggung biaya hidupnya," ujar Susanto.
Ketiga, lanjut Susanto, anak jalanan yang karena ikut-ikutan dan terpengaruh rekan sebaya atau teman. Anak dengan tipologi ini relatif mudah dikembalikan ke komunitas asalnya karena belum memutuskan pilihan permanen. "Keempat, anak hidup di jalanan dijadikan sebagai profesi dan merasa nyaman. Tipe ini tak mudah dikembalikan kepada komunitas dan keluarga asal, karena faktor mendasar adalah mentalitas," jelasnya.
Susanto menilai, penyelesaian masalah eksploitasi anak, khususnya terhadap para pelaku pengeksploitasinya, perlu pendekatan terpadu. Tidak hanya pendekatan hukum, namun jika diperlukan juga lewat pendekatan pendidikan dan pemberdayaan. "Jika pelaku ditangkap dan dipenjara, kemudian tidak dilakukan perubahan mental, maka dimungkinkan pelaku mengulangi perbuatannya kembali. Karena pelaku eksploitasi anak itu bukan semata-mata alasan ekonomi, namun yang lebih fundamental adalah mentalitas," ujarnya. (dri/rk)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template