Aksi Saling Klaim Berlangsung di Hutan Kuta Tandingan - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Aksi Saling Klaim Berlangsung di Hutan Kuta Tandingan

Aksi Saling Klaim Berlangsung di Hutan Kuta Tandingan

Written By ayah satria on Kamis, 21 April 2016 | 16.46.00

KARAWANG, RAKA - Kawasan hutan negara di Kuta Tandingan hingga kini jadi rebutan para pihak. Akibatnya aksi saling klaim atas lahan terus menimbulkan polemik di kalangan masyarakat.
Administratur Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Purwakarta Ir. Mulyadi yang didampingi Kasi Pengelolaan Sumber Daya Hutan(SDH) ketika ditemui wartawan di kantornya, Rabu(20/4) kemarin tak menampik soal keberadaan  mafia tanah yang ingin menguasai lahan hutan tersebut "Seperti di kawasan hutan negara wilayah Telukjambe Barat, kini sedang terjadi konflik antarmasyarakat yang saling klaim sebagai pemilik lahan tersebut," kata Mulyadi
Menurutnya, di kawasan hutan Kutatandingan itu ada kelompok-kelompok tertentu yang mengklaim memiliki tanah di kawasan hutan tersebut. Padahal, di kawasan itu jelas dikelola oleh Perum Perhutani. Bahkan, konflik atau permasalahan klaim-mengklaim kepemilikan tanah berawal sejak puluhan tahun lalu. Dia membeberkan, awalnya pada tahun 1989 setelah terjadi kerja sama atau tukar-menukar lahan seluas 7.100 hektare antara Perum Perhutani dengan salah satu perusahaan besar.
Tetapi, seiring perjalanan waktu, pada 1999 muncul peninjauan ulang terkait hal-hal yang dikerjasamakan. Diantara dasar peninjauan ulang itu ialah berkaitan rekomendasi BPK. "Dari 7.100 hektare yang dilakukan tukar-menukar, hanya 110 hektare yang disetujui. Sisanya seluas 6.990 hektare itu dicabut kerjasamanya. Pencabutan atau pembatalan itu sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan, pada 1999," jelas Mulyadi.
Di tempat sama, Kepala Seksi Pengelolaan Sumber Daya Hutan Perhutani KPH Purwakarta, Nana Rukmana mengatakan, secara resmi pada tahun 2004 pengelolaan kawasan hutan tersebut diserahkan ke Perum Perhutani. Tetapi, sejak Perhutani mengelola kembali kawasan hutan, kondisi di lapangan sudah banyak perambah. Terdapat 1.790 bangunan yang berada di kawasan hutan itu. "Kami berupaya mengatasi perambahan hutan itu, karena keberadaannya mengganggu kawasan hutan," kata dia.
Jika sebelumnya, perambah hanya memanfaatkan kawasan lahan hutan, tetapi baru-baru ini mereka justru mengklaim lahan. Tempat mereka tinggal merupakan milik mereka. Dia mengakui, Perum Perhutani sudah melakukan berbagai upaya untuk menertibkan di lokasi Hutan Kutatandingan. Namun, semenjak pengelolaannya diserahkan pada tahun 2004 silam, permasalahan tersebut tidak kunjung tuntas. Bahkan, kelompok-kelompok yang mengklaim pemilik lahan di lokasi tersebut terus bermunculan hingga sekarang. "Penertiban itu prosesnya panjang sekali, bahkan hingga saat ini belum juga selesai. Tapi, kami terus berupaya untuk menyelesaikannya," tuturnya.
Sebelumnya, Selasa (20/4), massa yang mengatasnamakan Serikat TaniTelukjambe Bersatu (STTB) berunjukrasa dan meminta Badan Pertanahan Nasional (BPN) Karawang menerbitkan sertifikat tanah. Terkait dengan hal tersebut, Nana mengingatkan kalau lahan hutan yang diklaim milik kelompok masyarakat tertentu tidak benar. Dia juga menegaskan, kalau lahan itu merupakan kawasan hutan yang dikelola oleh Perhutani. "Kami juga sudah berkoordinasi dengan BPN Karawang terkait hal tersebut (tuntutan STTB). Beberapa kali kami melakukan pertemuan dengan pihak BPN Karawang," tuturnya. (ops)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template