Petani Gelar Wayang Kulit - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Petani Gelar Wayang Kulit

Petani Gelar Wayang Kulit

Written By Mang Raka on Selasa, 14 Oktober 2014 | 12.30.00

CILAMAYA WETAN, RAKA - Setelah vakum menggelar tradisi 'mapag sri' atau syukuran sebelum penebasan padi yang ditandai masuknya musim panen selama 50 tahun terakhir, para petani di Dusun Cibango RT 01/05 Desa Cilamaya, Kecamatan Cilamaya Wetan, kembali menyemarakan perayaan tradisi tersebut lewat Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Saluyu.
Ketua Gapopktan Saluyu Aef Endang Sudrajat yang juga mengomandoi kepanitiaan mapag sri mengatakan, sudah hampir punah tradisi mapag sri ini di Cibango. Pasalnya, modernisasi dan rendahnya kesadaran masyarakat dalam mewujudkan bentuk syukuran menjelang panen ini menjadi penyebab utamanya.
Namun, lewat bantuan dari donatur dan masyarakat tani yang terdiri dari 8 kelompoknya, kegiatan ini bisa kembali digelar setelah 50 tahun jarang digelar. Pada dasarnya, mapag sri merupakan wujud syukur kepada Allah Swt menjelang panen padi, sementara hajat bumi atau babaritan biasanya digelar usai panen dan mapag cai menjelang musim tanam.
Namun kegiatannya lanjut Aep, tidak jauh beda pada umumnya, memeriahkan kegiatannya para petani ngaruwat bersama lewat pagelaran Wayang Kulit Ki Dalang Udama dari Rawameneng. "Siang malam digelar pementasan wayang kulit di area para makam sesepuh Cibango sekaligus ngaruwat," ujarnya.
Kadus Cibango ini menambahkan, wujud syukur karena diprediksi produksi padi tembus 7 ton per hektar dengan harga rata-rata Rp 4.600 perkilonya. Masyarakat sedari pagi sudah masak panggang ayam dan nasi tumpeng di rumah masing-masing, karena pada pukul 16.00 atau bakda Ashar, nasi tumpeng dan panganan lainnya akan disuguhkan kepada masyarakat tani setelah diruwat oleh kuncen, sesepuh dan dalang.
Hal ini tambahnya, bertujuan untuk meraih keberkahan dari padi yang akan ditebas agar jauh dari penyakit dan memberikan manfaat dari Allah Swt, karenanya kemeriahan saat ini, Gapoktan Saluyu berencana menggelar kegiatan serupa di tahun-tahun mendatang secara rutin. "Nanti didoakan oleh amil dan kuncen, setelahnya makan bersama secara lesehan untuk ngalap barokah," ujarnya.
Penyuluh Pertanian Desa Cilamaya Mahfud HD mengatakan, lahan pesawahan di Dusun Cibango ini masuk dalam golongan air empat dan akan mulai menebas padi varietas Ciherang, muncul, mekongga dan sebagian pandan wangi. Sejak musim tanam, rata-rata para petani di Cibango ini menggunakan metode tanam SL-PTT. Lewat ruwatan mapag sri ini pihaknya mengapresiasi sebagai ungkapan rasa syukur para petani sekaligus menandai dimulainya masa panen di Desa Cibango.
Di Kecamatan Cilamaya Wetan, biasanya desa yang masih menggelar hajat bumi dan tradisi lainnya adalah Rawagempol Wetan, namun ia mengapresiasi kegiatan yang juga digelar di Dusun Cibango ini. "Insya Allah hasil ubinan mah mungkin panen saat ini bagus baik kualitas maupun harga, namun untuk varietas pandan wangi memang harganya mulai anjlok," tutupnya. (rud)
Berbagi Artikel :
 
Support by : Admin Mang RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template