Pupuk Organik Mampu Produksi Padi 11 Ton per Hektar - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Pupuk Organik Mampu Produksi Padi 11 Ton per Hektar

Pupuk Organik Mampu Produksi Padi 11 Ton per Hektar

Written By Mang Raka on Jumat, 21 Desember 2012 | 14.00

PANGKALAN, RAKA - Penggunaan pupuk organik masih perlu disosialisasikan kepada petani di Kecamatan Pangkalan. Selain bisa mengembalikan kesuburan tanah, diharapkan dengan pupuk tersebut produksi pertanian akan mengalami peningkatana.

Ketua Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air (GP3A) Sumber Rejeki, Rahmat, mengatakan itu, baru-baru ini. Dikatakannya, kondisi tanah sawah yang secara umum semuanya sudah mengalami pada titik jenuh akibat penggunaan pupuk kimia secara terus menerus hingga tigapuluh tahun terakhir. Selama sesi itu tanah pertanian akhirnya mengalami penurunan unsur hara hingga kini sulit di temukan sawah yang masih subur.
Dijelaskan, diawal adanya program penggunaan pupuk kimia dengan program revolusi hijau di tahun delapan puluhan, semua petani cukup sulit untuk menerima atau memakai pupuk kimia tersebut. Pupuk tersebut hanya diterima dan dibawa pulang namun  sendiri tidak digunakan. Dari kegigihan pemerintah untuk mewujudkan program tersebut lambat laun program revolusi hijaupun dapat di terima, yang pada akhirnya digunakan oleh petani hingga saat ini.
Malah terkadang jika pupuk kimia tersebut cukup langka petani masih berani mencari ketempat lain atau lebih berani membayar harga pupuk lebih mahal lagi. Hal ini merupakan bukti bahwa petani umumnya di Indonesia sangat ketergantungan pada pupuk kimia. Maka giliran ketika hal terebut disadari bahwa pupuk kimia sangat menyedot unsur hara pada tanah, hingga tanah itu sendiri menjadi berkurang kesuburannya, dan ketika hal tersebut di pandang sebuah masalah bagi semua pemerintahpun kembali menganjurkan pada petani untuk kembali menggunakan pupuk organik seperti bertani sebelum ada pupuk kimia.
Akan tetapi semuanya mempunyai konsekwensi yang jelas dan sulit untuk di hindari, untuk kembali menganjurkan petani menggunakan pupuk organik, seperti di awal program revolusi hijau. "Salah satu cara untuk mengembalikan unsur hara tanah maka Budidaya padi organik dengan metode System of Rice Intensification, (SRI) sangatlah relevan. Sebab dengan metode ini pada dasarnya bukan hanya untuk mengembalikan kesuburan tanah, akan tetapi dapat meningkatkan ketahanan pangan yang sesuai dengan target program pemerintah, maka dengan sendirinya akan meningkatkan kesejahteraan petani sendiri," ucap Rahmat.
Selain itu, ketua GP3A ini menjelaskan dengan menanam padi dengan metode lebih megutamakan potensi lokal dan disebut pertanian ramah lingkungan, akan sangat mendukung terhadap pemulihan kesehatan tanah dan kesehatan pengguna produknya.  Pertanian organik pada prinsipnya menitikberatkan prinsip daur ulang hara melalui panen dengan cara mengembalikan sebagian biomassa ke dalam tanah dan konservasi air serta mampu memberikan hasil yang lebih tinggi dibandiingkan dengan metode konvensional atau cara menanam padi dengan menggunakan pupuk kimia.
Rahmatpun bukan hanya memberikan penjelasan saja, akan tetapi dia sendiri sudah melakukan metode tersebut sesuai dengan hasil dari pelatihan dan arahan dari para penyuluh, hingga sudah beberapa kali memparaktekan metode tersebut. Bahkan ketua kelompok tani inipun juga menyakinkan bahwa untuk petani yang ada di Kecamatan Pangkalan banyak yang sudah mempraktekan metode SRI itu sendiri, hingga dengan demikian jika banyak petani yang terus mengikuti jejaknya Pangkalan akan menjadi sentra beras organik yang juga dapat meningkatkan produktifitas. Selanjutnya Rahmat menjelaskan SRI adalah teknik budidaya padi yang mampu meningkatkan produktifitas padi dengan cara mengubah pengelolaan tanaman, tanah, air dan unsure hara, terbukti telah berhasil meningkatkan produktifitas padi sebesar 50%, bahkan dibeberapa tempat mencapai lebih dari 100%.
Ketua kelompok tani inipun sekilas memberikan Prinsip-prinsip Budidaya padi Organik Metode SRI diantaranya tanaman bibit muda berusia kurang dari 12 hari setelah semai (bus) ketika bibit masih berdaun 2 helai, bibit ditanam satu pohon perlubang dengan jarak 30 x 30, 35 x 35 atau lebih jarang, pindah tanam harus sesegera mungki (kurang dari 30 menit) dan harus hati-hati agar akar tidak putus dan ditanam dangkal, pemberian air maksimal 2 cm (macak-macak) dan periode tertentu dikeringkan sampai pecah (Irigasi berselang/terputus), penyiangan sejak awal sekitar 10 hari dan diulang 2-3 kali dengan interval 10 hari serta menggunakan pupuk 0rganik (kompos atau pupuk hijau) yang selama ini hanya dijadikan sampah dan menjadi masalah bagi lingkungan, namun dalam metode ini dimanfaatkan untuk pupuk.
Metode ini mempunyai Keunggulan karena Tanaman ini hemat air, selama pertumbuhan dari mulai tanam sampai panen memberikan air maksimal dengan ketinggian 2 cm, yang selama ini sering terjadi perebutan air, paling baik macak-macak sekitar 5 mm dan ada periode pengeringan sampai tanah retak (Irigasi terputus). Jika di hitungpun metode ini hemat Biaya, hanya butuh benih 5-7 kg/ha, di tambah lagi memerlukan biaya pencabutan bibit, tidak memerlukan biaya pindah bibit, tenaga tanam kurang. Disamping itu juga hemat waktu, ditanam bibit muda 5–12 hari setelah semai, dan waktu panen akan lebih awal dan produksi meningkat.
Bahkan dengan metode SRI disejumlah tempat mampu mencapai produksi maksimal hingga mencapai 11 ton/ha. (ark)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

Tuliskan Komentar Anda Tentang Artikel Diatas

 
Support by : The-Kiel Admin MaNg RaKa
Copyright © 2012. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template
Best View using Mozilla Firefox version 3 or higher.