Lokasi Situs Kebon Jambe Minta Dijadikan Cagar Budaya - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Lokasi Situs Kebon Jambe Minta Dijadikan Cagar Budaya

Lokasi Situs Kebon Jambe Minta Dijadikan Cagar Budaya

Written By Mang Raka on Rabu, 26 Desember 2012 | 14.00

TEGALWARU, RAKA - Pemerintah diminta mengubah status lokasi temuan situs menhir atau batu tunggal (monolith) di Kebon Jambe, Kecamatan Tegaswaru sebagai kawasan cagar budaya. Hal itu dianggap perlu untuk menindaklanjuti penelitian yang sudah dilakukan di lokasi tersebut.

"Untuk menindak lanjuti penelitian di Kebon Jambe maka diharapkan dapat menjadikan atau merubah tempat tersebut (lokasi penelitian situs mehnhir, red) sebagai kawasan strategis pelestarian cagar budaya dan masuk dalam Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW).  sesuai dengan Uu no. 11 Tahun 2010, tentang tentang cagar budaya. Sebab dengan Lahirnya UU No.11 tahun 2010 menciptakan tatanan baru dalam usaha pemerintah untuk melestarikan warisan budaya bangsa ini," ungkap Kasi Sejarah Museum dan Purbakala, H Firman SH., saat dikonfirmasi baru-baru ini.
Firman mengatakan pelestarian dalam konteks ini tidak hanya sebatas memberikan pelindungan tetapi juga melakukan pengembangan dan pemanfaatan yang pada akhirnya dapat memberikan peranan dalam memperkuat pengamalan Pancasila, memperkuat kepribadian bangsa dan kebanggaan nasional, memperkukuh persatuan bangsa, meningkatkan kualitas hidup serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat sebagai arah kehidupan bangsa. Sebab dengan memperlakukan peninggalan tersebut akan membuat sebuah objek daya tarik wisata (ODTW) yang juga mempunyai multiplayer efect, karena akan membuat wisatawan atau pengunjung datang dan menjadikan peluang usaha.
Sementara menurut salah seorang arkeolog yang meneliti situs Kebon Jambe, Lutfi (45), rangkaian penelitian tersebut sementara sudah jelas merupakan peninggalan sejarah dan tidak dibuat-buat. Namun penelitian inipun masih memerlukan tahapan yang panjang diantaranya uji lab tanah dan terpenting selanjutnya ekskapasi. "Melalui ekskavasi akan lebih jelas lagi karena merupakan salah satu teknik pengumpulan data melalui kegiatan penelitian tanah yang dilakukan secara sistematis untuk memperoleh data arkeologis dalam keadaan insitu (in-site)," jelas dia.
Secara umum, lanjut Lutfi, ekskavasi bertujuan untuk memperoleh informasi yang lebih jelas tentang aspek-aspek bentuk temuan, hubungan antartemuan, hubungan stratigrafis, kronologis, konteks, fungsi, struktur, dan tingkah laku pendukungnya. Akan tetapi selaku arkeolog Lutfi menyadari bahwa rangkaian penelitian tersebut kembali pada kebijakan dan kepedulian pemerintah daerahnya sendiri.
Menurut arkeolog Indonesia dari Universitas Indonesia yang juga menekuni bidang epigrafi yaitu Drs.Hasan Djafar (72) salah seorang tim peneliti kebon jambe, saat di konfirmasi menyampaikan, sebelum melakukan penelitian di Kebon Jambe ini terlebih dahulu sudah mengenal Karawang sejak tahun 1985 dengan melakukan penelitian atas penemuan candi Jiwa atau segaran 1, sampai dengan penelitian situs lainya. Hingga beberapa penemuan lainnya dan sampai penelitian yang membuktikan candi tersebut merupakan komplek percandian terluas di jawa dan lebih tua di banding dengan Candi Borobudur. 
Arkeolog ini juga menyampaikan dalam penelitian ini salah satunya keahliannya adalah dalam bidang Epigrafi. Dia juga menerangkan tentang Epigrafi yakni cabang arkeologi yang berusaha meneliti benda-benda bertulis yang berasal dari masa lampau. Salah satu contohnya adalah prasasti. Prasasti merupakan sumber bukti tertulis (berupa tulisan ataupun gambar) pada masa lampau yang dapat memberikan informasi mengenai peristiwa dimasa lampau, asal-usul seorang raja atau tokoh atau genealogi maupun penanggalan.
Dalam menjalankan tugas-tugasnya, ahli epigrafi banyak menjumpai berbagai macam hambatan. Menurut Hasan, masalah yang pertama adalah karena banyak prasasti terutama prasasti batu, yang sudah demikian usang sehingga sulit untuk membacanya. Ia harus membaca bagian-bagian yang usang tersebut berkali-kali sampai mendapatkan pembacaan yang memuaskan. Dengan menguasai bentuk huruf kuno dengan segala lekuk likunya, dan dengan senantiasa membanding-bandingkan huruf-hurufnya yang usang itu dengan huruf-huruf yang masih jelas, seorang ahli epigrafi berusaha untuk memperoleh pembacaan yang selengkap-lengkapnya. Kedua, dihadapkan pada waktu menterjemahkan prasasti-prasasti itu. Pengetahuan mengenai bahasa-bahasa kuno yang digunakan dalam prasasti masih belum cukup untuk memahami sepenuhnya makna yang terkandung di dalam naskah-naskah itu.
Peninggalan di Kebon Jambe tersebut ternyata terindikasi berikut pesawahannya sebab menurut pemilik lahan kebon jambe Hidayat (47) warga Jayanti, Desa Mekarbuana yang juga pemilik bagian dari sawah yang ada di lingkungan Kebon Jambe tersebut saat di minta informasinya tentang sawah mengatakan, sawah ini sudah terus menerus dan dari keluarga tidak ada cerita membuat sawah yang berarti sawah tersebut sudah ada sejak dahulu kala. Petani lain Samsu (65) menyampaikan luasan sawah peninggalan peninggalan jaman dahulu sawah di dekat kampung hingga lingkungan kebon jambe dengan sebutan sawah watu, atau sawah betu yang karena pematangnya dari tumpukan batu. adapun menurut Enim ada juga bagian sawah tersebut merupakan perluasan, namun hanya sedikit.
Dengan kondisi tersebut maka Engkos salah seorang tim dari Dinas Kebudayaan dan pariwisata menyampaikan akan terus melakukan identifikasi peninggalan yang ada di karawang ini termasuk peninggalan yang ada di karawang selatan ini, dengan harapan akan terus menambah pengetahuan serta merupakan kewajiban melindungi cagar budaya sesuai dengan Uu no 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya. (ark)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : The-Kiel Admin MaNg RaKa
Copyright © 2012. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template
Best View using Mozilla Firefox version 3 or higher.