Jejak Sang Karuhun Sunda di Mekarbuana - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Jejak Sang Karuhun Sunda di Mekarbuana

Jejak Sang Karuhun Sunda di Mekarbuana

Written By Mang Raka on Minggu, 23 Desember 2012 | 18.04.00

ADA hal menarik ketika mengetahui situs telapak kaki Prabu Siliwangi di Kampung Jayanti, Desa Mekarbuana, Kecamatan Tegalwaru. Hal ini mengingatkan ucapan Raja Kerajaan Sunda Sri Jayabhupati yang memerintah antara tahun 1050 masehi bahwa telapak kakinya adalah batas wilayah Kerajaan Sunda tadkala itu.

Masih sedikit sekali literatur yang membahas mengenai Kerajaan Sunda (sebelum berdirinya Kerajaan Padjajaran) bahkan angka tahun pemerintahan Sri Jayabhupati. Tidak ubahnya usia kerajaan Padjajaran kerajaan sunda juga memiliki masa pemerintahan yang singkat yakni 300 tahun (1050-1300 M). Sementara Kerajaan Padjajaran berdiri 1300 M dan mulai tenggelam pengaruhnya berbarengan dengan berdirinya Kerajaan Banten sekitar abad ke XVI.
Gelar Prabu Siliwangi baru ada setelah berdirinya Kerajaan Padjajaran yang diperintah oleh Prabu Siliwangi Niskala Wastu Kencana, berbarengan dengan berdirinya Kerjaan Majapahit pada 1300 Masehi. Sebelumnya diinformasikan antara Prabu Siliwangi dengan Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit, terikat 'Sumpah Darah' yakni rakyat Majapahit tidak akan pernah menumpahkan darah rakyat Padjajaran. Demikianpun sebaliknya, hingga kemudian terjadi peristiwa 'perang bubat' antara Majapahit - Padjajaran, pada masa pemerintahan Mahapati Gajamada.
Kembali ke soal telapak kaki prabu siliwangi yang ada Kampung Jayanti, Desa Mekarbuana, Kecamatan Tegalwaru, RAKA hanya menemukan pendekatan dari cerita masyarakat setempat. Kisah turun temurun ini sudah diadopsi oleh masyarakat setempat sebagai riwayat kehadiran telapak kaki prabu siliwangi yang dicerita mampu melompat hingga jarak 1000 meter sebelum menancapkan telapak kakinya hingga amblas ke dalam batu.
Dahulu, pada era Sri Jayabhuphati, untuk menunjukan batas wilayah kerajaannya dia menghitungnya berdasarkan jarak lompatannya yang konon mampu mencapai 1000 meter sekali melompat. Dan, dalam hitungan tertentu dia menandainya dengan meninggalkan bekas telapak kakinya di batu besar. Dan itu dilakukan dari mulai daerah Cianjur hingga sampai ke Bogor.
"Konon ceritanya di zaman dahulu, dimana orang-orangnya sakti mandraguna. Dia melompat dari batu gajah, Cijati, Gunung Sampora, dengan jarak antara tempat tersebut kurang lebih mencapai seribu meter," ucap Wawan (37) warga kampung Cijati, Desa Mekarbuana, saat RAKA bertemu dia beberapa waktu lalu.
Warga inipun menyampaikan cerita yang beredar di tengah masyarakt tentang tapak kaki yang ada pada batu tersebut dan sudah menjadi cerita turun temurun sejak dia kecil ceritanya tak pernah berubah. Namun ketika dihampiri dengan seksama, ada rasa kaget dihati Wawan. Dia seperti baru tahu kalau selain bekas telapak kaki disitupun terdapat coretan menyerupai denah atau peta lokasi sekali bekas telapak tangan.
Begitupun menurut warga lainnya diantaranya Emuy (43) yang sama-sama kaget ketika melihat hasil kamera dengan jelas di batu tersebut ada gambar selain telapak kaki. Malah cerita telapak kaki sendiri ketika melihat hasilnya sepertinya ada juga perbedaan hingga di simpulkan dalam telapak kaki pada batu tersebut ada pula tapak kaki yang hanya bekas jempol hingga kelingking kaki.
Hingga Emuy menceritakan yang berarti untuk kedua gambar tersebut beda cerita, sebab yang diceritakan orang tua sendiri orangnya lompat, akan tetapi sekarang ada gambaran telapak tangan dan gambar denah, yang berarti jelas tidak melompat. Cerita yang samapun disampaikan oleh Ence salah seorang warga yang mengajar di sekolah dekat dengan batu yang ada gambar kaki Prabu Siliwangi, telapak tangan dan denah.
Situs bekas telapak kaki dan telapak tangan di Kecamatan Tegalwaru hingga sekarang masih samar. Satu-satunya petunjuk yang dijadikan pendekatan keberadaan situs tersebut adalah cerita turun temurun masyarakat setempat tentang orang yang melompat sejauh 1000 meter dari batu gajah, Cijati, Gunung Sampora hingga telapak kakinya membekas di batu besar.  Terhadap keberadaan situs ini sebenarnya sudah pernah disinggung oleh seorang sarjana sejarah bernama Yasir. Dia guru di SMAN 1 Pangkalan. Karena perhatiannya kepada situs tersebut ia menyarankan agar temuan bekas telapak kaki dan telapak tangan serta guratan menyerupai peta itu diteliti oleh seorang arkeolog. "Belum ada yang bisa memastikan temuan situs bekas telapak kaki dan telapak tangan ini (di Kp. Jayanti, Desa Mekarbuana, Kecamatan Tegalwaru). Bahkan sejauh ini sifatnya sebatas tebak-tebakan. Karenanya untuk memastikan situs ini perlu adanya sebuah penelitian oleh arkeolog," ucap Yasir ketika itu.
Pengajar inipun menyampaikan, sebelum ada penelitian belum bisa dikatakan tahun telapak kaki tersebut dibuat diatas batu. Sebab dalam penelitian nanti juga pasti di cek tahun berapa gambaran pada batu tersebut, dibuat," terang Yasir.
Bukan hanya itu saja, tambah Yasir, hasil investigasinya di daerah Pangkalan dan Tegalwaru jika melihat cirinya banyak sekali peninggalan purbakala yang bisa ditemukan, seperti menhir dan dolmen. Situ-situ ini biasanya ditemukan di kalimantan, Sulawesi, Sumatera, Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Secara rinci Yasir menerangkan tentang dolmen. Menurut dia, dolmen adalah meja batu tempat meletakkan sesaji yang dipersembahkan kepada roh nenek moyang. Dibawah dolmen biasanya sering ditemukan kubur batu. Sehingga jika disimpulkan dolmen adalah sebuah meja yang terbuat dari batu yang berfungsi sebagai tempat meletakkan saji-sajian untuk pemujaan. Adakalanya di bawah dolmen dipakai untuk meletakkan mayat. Agar mayat tersebut tidak dapat dimakan oleh binatang buas maka kaki mejanya diperbanyak sampai mayat tertutup rapat oleh batu.
Hal ini menunjukan kalau masyarakat pada masa itu meyakini akan adanya sebuah hubungan antara yang sudah meninggal dengan yang masih hidup. Mereka percaya bahwa apabila terjadi hubungan yang baik akan menghasilkan keharmonisan dan keselarasan bagi kedua belah pihak. Dolmen ini juga biasanya disebut 'Watu Tumpang' atau 'Batu Tumpang', yang berarti dari jaman megalitikum. 
Dolmen yang merupakan tempat pemujaan misalnya ditemukan di Telagamukmin, Sumberjaya, Lampung Barat. Dolmen yang mempunyai panjang 325 cm, lebar 145 cm, tinggi 115 cm ini disanggah oleh beberapa batu besar dan kecil. Hasil penggalian tidak menunjukkan adanya sisa-sisa penguburan. Benda-benda yang ditemukan diantaranya adalah manik-manik dan gerabah.
Pada umumnya dolmen banyak ditemukan di Jawa Timur dan Sumatera Selatan. Dolmen merupakan hasil kebudayaan megalitikum, dimana pada zaman megalit bangunannya selalu berdasarkan kepercayaan akan adanya hubungan antara yang hidup dan yang mati terhadap kesejahtraan masyarakat dan kesuburan tanaman. Domen ini merupakan sebuah media atau peralatan yang dipergunakan untuk mengadakan upacara pemujaan terhadap roh nenek moyang.
Selain dolmen, situs lain adalah Menhir yakni batu tunggal (monolith) yang berasal dari periode Neolitikum  yang berdiri tegak di atas tanah. Istilah menhir diambil dari bahasa Keltik dari kata men (batu) dan hir (panjang). Menhir biasanya didirikan secara tunggal atau berkelompok sejajar di atas tanah diperkirakan benda prasejarah ini didirikan oleh manusia prasejarah untuk melambangkan phallus, yakni simbol kesuburan untuk bumi, maka jika ada menhir daerah di sekitarnya suka subur.
Di jelaskan pula Menhir adalah batu yang serupa dengan dolmen dan cromlech, merupakan batuan dari periode Neolitikum yang umum ditemukan di Perancis, Inggris, Irlandia, Spanyol dan Italia, akan tetapi ternyata inipun ada kemiripan dengan batu yang di sebut lokasi wisata Batu tumpang Jayanti desa Mekarbuana.Batu-batu ini dinamakan juga megalith (batu besar) dikarenakan ukurannya. Mega dalam bahasa Yunani artinya besar dan lith berarti batu. Biasanya Para arkeolog percaya bahwa situs ini digunakan untuk tujuan religius dan memiliki makna simbolis sebagai sarana penyembahan arwah nenek moyang.
Dolmen banyak ditemukan di Jawa Timur dan Sumatera Selatan. Situs purbakala ini merupakan produk kebudayaan megalitikum yang mengusung kepercayaan terhadap arwa para leluhur. Mereka mempercayai antara yang hidup dan yang mati masih terjalin hubungan emosional yang kental. Disebut zaman megalit dari kebudayaan megalitukum ini. Zaman ini amat mempengaruhi bukan saja pola kehidupan masyarakatnya tetapi juga bentuk bangunan yang ada masa itu. Hubungan antara yang hidup dan yang mati masih kental mempengaruhi terciptanya sebuah kesejahteraan bahkan diyakini mempengaruhi kesuburan tanaman.
Dolmen ini merupakan sebuah media atau peralatan yang dipergunakan untuk mengadakan upacara pemujaan terhadap roh nenek moyang. Selain dolmen, situs lain yang ditemukan di Pangkalan adalah 'Batu Tunggal' (monolith) yang berasal dari periode Neolitikum  yang berdiri tegak di atas tanah. Istilah menhir diambil dari bahasa Keltik dari kata men (batu) dan hir (panjang).
Menhir biasanya didirikan secara tunggal atau berkelompok sejajar di atas tanah diperkirakan benda prasejarah ini didirikan oleh manusia prasejarah untuk melambangkan phallus, yakni simbol kesuburan untuk bumi, maka jika ada menhir daerah di sekitarnya suka subur.
Di jelaskan pula Menhir adalah batu yang serupa dengan dolmen dan cromlech, merupakan batuan dari periode Neolitikum yang umum ditemukan di Perancis, Inggris, Irlandia, Spanyol dan Italia, akan tetapi ternyata inipun ada kemiripan dengan batu yang di sebut lokasi wisata Batu tumpang Jayanti desa Mekarbuana.
Batu-batu ini dinamakan juga megalith (batu besar) dikarenakan ukurannya. Mega dalam bahasa Yunani artinya besar dan lith berarti batu. Biasanya Para arkeolog percaya bahwa situs ini digunakan untuk tujuan religius dan memiliki makna simbolis sebagai sarana penyembahan arwah nenek moyang. (ark)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

SILAHKAN KOMENTARI MENGGUNAKAN BAHASA YANG SANTUN

 
Support by : S. Cahyono Admin MaNg RaKa
Copyright © 2016. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template