Harga Kedelai Masih Tinggi - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Harga Kedelai Masih Tinggi

Harga Kedelai Masih Tinggi

Written By Mang Raka on Sabtu, 06 Oktober 2012 | 15.00

- Perajin Tahu Kelimpungan Penuhi Biaya Produksi

CIKAMPEK, RAKA - Belum stabilnya harga kedelai, membuat perajin tahu dan tempe di Cijalu Kopti, Kecamatan Cikampek menjerit. Tinggi harga kedelai tersebut, membuat biaya produksi perajin meningkat.
Salah seorang produsen tahu, Iyah menuturkan, saat ini harga kacang kedelai masih dikisaran Rp 780 ribu per kwintal. Padahal harga biasanya hanya sebesar Rp 550 ribu hingga Rp 600 ribu per kwintal. Masih tingginya harga kedelai, membuatnya khawatir usahanya akan bangkrut karena biaya produksi meningkat tajam. "Harga kedelai tak seperti dulu, masih Rp 780 ribu per kwintal, masih mahal," ucapnya pada RAKA, Jum'at (5/10).
Kondisi seperti itu, membuat Iyah harus memutar otak, mencari cara agar usahanya tidak bangkrut. Oleh karena itu, ia mesiasati dengan cara mengecilkan ukuran tahu. Karena jika ia menaikkan harga, maka pembeli akan semakin berkurang. "Ukuran saja di kecilin sedikit, pembeli maunya yang besar. Kalau kita naikan harga gak ada yang mau," keluhnya.
Selain itu, lanjut Iyah, dengan mempekerjakan tiga pegawai, pendapatannya semakin berkurang dan sering rugigi. Meski demikian, ia mengaku akan terus bertahan dengan meproduksi tahu, karena membuat tahu sudah menjadi matapencahariannya. Ia berharap, harga kedelai kembali stabil. "Pengaruh banget,  bukan rugi lagi, belum buat kuli, bahan-bahannya. Masih tetap bertahan, mau bagaimana lagi pencahariannya sudah begini," tuturnya.
Hal senada juga diungkapkan oleh salah seorang perajin tempe, Abu Hasan. Menurutnya, harga kacang kedelai masih tinggi, dan hanya turun Rp 30 ribu per kwintal dari harga yang sebelumnya sempat meningkat tajam beberapa bulan lalu yang mencapai Rp 800 ribu per kwintal. "Ya masih belum normal sih mas. Lumayan turun sekitar Rp 30 ribu yang sebulumnya sempat sekitar 800," ucapnya.
Meski pendapatannya berkurang, ia masih bertahan. Ia juga mengaku kebingungan ketika membagi hasil usahanya untuk kebutuhan sehari-hari. "Sehari cuma bikin 60-65 kilo yang biasanya 80 kilo per hari. Tidak  bisa bikin banyak, karena sepi dan modalnya tidak ada. Kalo disini masih masing-masing, harganya jadi pelanggan pindah ke orang yang lebih murah. Pendapatan bingung bagi-baginya, karena sedikit dapatnya," pungkasnya. (vid)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

Tuliskan Komentar Anda Tentang Artikel Diatas

 
Support by : The-Kiel Admin MaNg RaKa
Copyright © 2012. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template
Best View using Mozilla Firefox version 3 or higher.