Perlawanan Kultural Sunda Wiwitan - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Perlawanan Kultural Sunda Wiwitan

Perlawanan Kultural Sunda Wiwitan

Written By Mang Raka on Jumat, 24 Agustus 2012 | 16.34

Sunda wiwitan merupakan sebuah agama yang lahir di tanah air dan Nagara Sunda. Namun pemeluk agama ini mengalami diskriminasi layaknya penganut agama-agama lain yang tidak “diakui” di Indonesia. Para penganut ajaran ini mengaku kesulitan mendapatkan identitas diri dan kerap dikucilkan dari masyarakat.

Hingga kini, tak satu pun agama-agama dan kepercayaan asli nusantara yang diakui di Indonesia sebagai agama dengan hak-hak untuk dicantumkan di KTP, Akta Kelahiran, pencatatan perkawinan di Kantor Catatan Sipil.
Lalu apa sebenarnya Sunda wiwitan itu? Salah satu yang menganut ajaran Sunda Wiwitan adalah Dewi Kanthi Setyaningsih. Ia menjelaskan lebih jauh soal latar belakang paham yang dianutnya. Menurutnya, Sunda Wiwitan adalah sebuah agama yang memang diyakini oleh sejumlah orang di daerah Sunda. Salah satu daerah yang menganut ajaran agama ini adalah Suku Baduy. “Wiwitan mengandung arti sebagai permulaan awal. Pemahaman Sunda Wiwitan sendiri adalah sebagai sistem keyakinan yang merupakan tradisi nenek moyang dari masyarakat Sunda kuno. Itu jauh sebelum ada agama-agama dari luar nusantara masuk,” papar Dewi.
Namun lebih jauh ia juga menjelaskan, pemeluk agama ini tidak hanya berasal dari etnis Sunda saja. Filosofi Sunda mengandung makna damai atau cahaya. “Nah. Cahaya awal kehidupan itulah yang kami maknai lebih dalam,” jelas Dewi singkat. Pemaknaan kata ‘Wiwitan’ itu sendiri lanjutnya, masih dilandasi oleh kesadaran tetap menjunjung nilai-nilai kodrati dari pencipta kehidupan. Intinya kata dia, penganut ajaran itu ingin membangun kesadaran untuk membangun tradisi spiritual.
Selain mengalami kekerasan, penganut agama Sunda Wiwitan rentan terhadap diskriminasi. Mendapatkan dokumen kependudukan seperti KTP bukan hal yang mudah. Juga kartu keluarga sampai surat nikah. Persoalannya terpaku pada kepercayaan yang dianut Dewi Kanti yang belum diakui negara. Saat ini baru 6 agama yang mendapat pengakuan, Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu. “Negara belum mengakui kami,” keluh Dewi Kanti.
Sekretaris Jenderal Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBTI), Nia Syaifuddin, menyayangkan dengan apa yang terjadi terhadap para pemeluk paham minoritas, termasuk Sunda Wiwitan ini. Menurutnya, negara dalam konstitusinya memang menjamin kebebasan setiap warganya untuk memeluk dan beribadah sesuai dengan kepercayaannya masing-masing. “Tapi itu hanya berlaku bagi bagi agama yang diakui oleh pemerintah saja, yakni Kristen, Protestan, Budha, Hindu, Konghucu, dan Islam. Sementara bagi sekian banyak penganut ajaran lain, itu tak berlaku,” sesalnya.
Pemerintah kata Nia, seharusnya melihat fakta yang ada di masyarakat bahwa masih banyak orang-orang yang belum bebas menjalankan dan meyakini ajaran yang mereka ingin yakini. “Pemerintah membuat aturan seolah ingin membunuh banyak kepercayaan lokal. Seharusnya bila mengacu pada Pasal 29 soal kebebasan beragama, seharusnya negara menjamin setiap warganya untuk memeluk serta beribadah sesuai dengan apa yang ia yakini. Tak perlu mengkotak-kotakkan pada situasi ‘ajaran lokal’ dan ‘ajaran impor’,” harapnya.
Ia juga berasumsi bahwa banyaknya diskriminasi terhadap kaum-kaum minoritas yang terjadi belakangan ini sangat dipengaruhi oleh stigma semacam itu. “Jadi bagi mereka yang menganut ajaran di luar yang enam itu, dianggap sesat,” kata Nia. Padahal seharusnya Pemerintah justru menjamin kerukunan umat beragama sesuai dengan semboyan bangsa ini, yakni Bhineka Tunggal Ika.
“Kami dilahirkan sebagai orang Sunda bukan atas pilihan dan kehendak kami, ditakdirkan sebagai masyrakat Nusantara juga bukan pilihan kami, tetapi kehendak Sang Hyang Maha Kersa, maka izinkan kami hingga akhir kami menutup mata kembali padaNya dalam “keutuhan” menjaga tradisi leluhur kami, sembari mengejar “kebutuhan” administrasi negara.” ungkap, Dewi Kanti.
Seiring berjalannya waktu, budaya spiritual dari luar mulai masuk, mendominasi, dan mengikis tradisi-tradisi asli nusantra layaknya Sunda Wiwitan. “Hal itu disebabkan karena pada metode penyampaian ajaran, budaya spiritual nusantara tidak menggunakan cara seperti misionaris dari luar nusantara” tegas Dewi Kanti.
Imbas dari dominasi tersebut adalah diskriminasi terhadap agama-agama lokal seperti Sunda Wiwitan, Jawa Kawitan, Bissu, Marappu, Tolotang, dll. Menurut Dewi Kanti, meskipun konstitusi melalui UUD 1945  melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah indonesia, tetapi pada kenyataanya konstitusi itu diingkari.
Diketahui, pada proses perkembangan agama Islam, tidak seluruh wilayah tatar Sunda menerima sepenuhnya, di beberapa tempat terdapat komunitas yang bertahan dalam ajaran leluhurnya seperti komunitas masyarakat di Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak yang dikenal dengan masyarakat Baduy. Mereka adalah komunitas yang tidak mau memeluk Islam dan terkungkung di satu wilayah religius yang khas; terpisah dari komunitas Muslim Sunda dan tetap melanggengkan ajaran Sunda Wiwitan.
Dasar religi masyarakat Baduy dalam ajaran Sunda Wiwitan adalah kepercayaan yang bersifat monoteis, penghormatan kepada roh nenek moyang, dan kepercayaan kepada satu kekuasaan yakni Sanghyang Keresa (Yang Maha Kuasa) yang disebut juga Batara Tunggal (Yang Maha Esa), Batara Jagat (Penguasa Alam), dan Batara Seda Niskala (Yang Maha Gaib) yang bersemayam di Buana Nyungcung (Buana Atas). Orientasi, konsep, dan pengamalan keagamaan ditujukan kepada pikukuh untuk menyejahterakan kehidupan di jagat mahpar (dunia ramai). Pada dimensi sebagai manusia sakti, Batara Tunggal memiliki keturunan tujuh orang batara yang dikirimkan ke dunia melalui Kabuyutan; titik awal bumi Sasaka Pusaka Buana. Konsep buana bagi orang Baduy berkaitan dengan titik awal perjalanan dan tempat akhir kehidupan. (Garna, 1992:5).
Menurut ajaran Sunda Wiwitan, perjalanan hidup manusia tidak terpisah dari wadah tiga buana, yaitu (1) Buana Nyungcung sama dengan Buana Luhur atau Ambu Luhur; tempat bersemayam Sang Hyang Keresa di tempat paling atas; (2) Buana Panca Tengah atau Ambu Tengah yang dalam dunia pewayangan sering disebut Mayapada atau Arcapada tempat hidup manusia dan mahluk lainnya; dan (3) Buana Larang sama dengan Buana Handap atau Ambu handap yaitu tempatnya neraka. Manusia yang hidup di Buana Panca Tengah suatu saat akan menemui Buana Akhir yaitu Buana Larang, sedangkan proses kelahirannya ditentukan di Buana Luhur. Antara Buana Nyungcung dan Buana Panca Tengah terdapat 18 lapisan alam yang tersusun dari atas ke bawah, lapisan teratas disebut Bumi Suci Alam Padang atau Kahyangan tempat Sunan Ambu dan para pohaci bersemayam.
Pada pelaksanaan ajaran Sunda Wiwitan di Kanekes, tradisi religius diwujudkan dalam berbagai upacara yang pada dasarnya memiliki empat tujuan utama: yaitu (1) menghormati para karuhun atau nenek moyang; (2) menyucikan Pancer Bumi atau isi jagat dan dunia pada umumnya; (3) menghormati dan menumbuhkan atau mengawinkan Dewi Padi; dan (4) melaksanakan pikukuh Baduy untuk mensejahterakan inti jagat. Dengan demikian, mantra-mantra yang diucapkan sebelum dan selama upacara berisikan permohonan izin dan keselamatan atas perkenan karuhun, menghindari marabahaya, serta perlindungan untuk kesejahteraan hidup di dunia damai sejahtera.
Masuknya agama Islam ke tatar Sunda menyebabkan terpisahnya komunitas penganut ajaran Sunda Wiwitan yang taat dengan mereka yang menganut Islam. Masyarakat penganut Sunda Wiwitan memisahkan diri dalam komunitas yang khas di pedalaman Kanekes ketika agama Islam memasuki kerajaan Pakuan Pajajaran. Hal ini dapat ditemukan dalam cerita Budak Buncireung, Dewa Kaladri, dan pantun Bogor versi Aki Buyut Baju Rambeng dalam lakon Pajajaran Seureun Papan.
Secara sadar, masyarakat Kanekes dengan tegas mengakui perbedaan mereka dengan masyarakat Sunda lainnya di luar Kanekes hanyalah dalam sistem religi, bukan etnis. Menurut Djatisunda (1992;2-3) mereka menyebut orang Sunda di luar Kanekes dengan sebutan Sunda Eslam (orang Sunda yang beragama Islam) dan dianggap sebagai urang Are atau dulur are. Arti dari istilah urang are atau dulur are dikemukakan Ayah Kaiti bekas seurat Tangtu Cikeusik bahwa: harti urang are ta, ja dulur are. Dulur-dulur na mah, ngan eslam hanteu sabagi kami di dieu (arti urang are yaitu dulur are. Saudara sih saudara, tetapi menganut agama Islam tidak seperti saya di sini). Ungkapan tersebut memperjelas pengakuan kedudukan etnis masyarakat Kanekes sebagai suku bangsa Sunda yang membedakannya hanyalah sistem religi karena tidak menganut agama Islam.
Berbeda dengan masyarakat Baduy yang bertahan dengan tradisinya akibat desakan pengaruh Islam, perjumpaan Islam dengan budaya Sunda dalam komunitas lain malah melahirkan kepercayaan baru seperti yang dikembangkan Madrais di Cigugur Kabupaten Kuningan dan Mei Kartawinata di Ciparay Kabupaten Bandung.
Madrais semula dibesarkan dalam tradisi Islam kemudian melahirkan ajaran baru yang mengajarkan faham Islam dengan kepercayaan lama (pra-Islam) masyarakat Sunda yang agraris dan disebutnya sebagai Ajaran Djawa Sunda atau Madraisme pada tahun 1921. Ia menetapkan tanggal 1 Sura sebagai hari besar seren taun yang dirayakan secara besar-besaran antara lain dengan ngagondang (menumbukkan alu pada lesung sambil bernyanyi). Menurut ajarannya, Dewi Sri atau Sanghyang Sri adalah Dewi Padi yang perlu dihormati dengan upacara-upacara religius daur ulang penanaman padi serta ajaran budi pekerti dengan mengolah hawa nafsu agar hidup selamat. Di pihak lain, ia pun memuliakan Maulid Nabi Muhammad, tetapi menolak Alquran dengan anggapan bahwa Alquran yang sekarang tidak sah sebab Alquran yang sejati akan diturunkan menjelang kiamat.
Ajaran Madraisme ini, setelah Madrais meninggal dunia tahun 1939 dilanjutkan anaknya bernama Pangeran Tejabuana, serta cucunya Pangeran Jati Kusumah yang 11 Juli 1981 mendirikan Paguyuban Adat Cara Karuhun Urang (PACKU) mengharuskan para pengikutnya untuk melestarikan ajaran karuhun Sunda dan ke luar dari agama Islam.
Sementara itu, Mei Kartawinata (1898-1967) seorang tokoh kebatinan mendirikan aliran kepercayaan perjalanan yang dikenal dengan “Agama Kuring” (Agamaku) dan pendiri Partai Permai di Ciparay Kabupaten Bandung. Kisahnya, 17 September 1927, di Subang ia mendapat wangsit untuk berjuang melalui pendidikan, kerohanian, dan pengobatan melalui perkumpulan Perjalanan yang mengibaratkan hidup manusia seperti air dalam perjalanannya menuju laut dan bermanfaat sepanjang jalan. Dia menulis buku “Budi Daya” tahun 1935 yang dijadikan ‘kitab suci’ oleh para pengikutnya. Ajaran ini memadukan sinkretisme antara ajaran Sunda Wiwitan, Hindu, Budha, dan Islam. (rk)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

Tuliskan Komentar Anda Tentang Artikel Diatas

 
Support by : The-Kiel Admin MaNg RaKa
Copyright © 2012. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template
Best View using Mozilla Firefox version 3 or higher.