Lesung, Seni Tradisional Masyarakat Agraris - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Lesung, Seni Tradisional Masyarakat Agraris

Lesung, Seni Tradisional Masyarakat Agraris

Written By Mang Raka on Minggu, 26 Agustus 2012 | 18.39

“Tek, tok, tek, dug, tek, tok, tek, dug, teng, tug , dug”, suara lesung (alat penumbuk padi) yang ditumbuk oleh beberapa orang saling bergantian dengan tetabuhan yang dikenal sebutan “Klotekan Lesung”. Kesenian tradisional lesung sudah mulai jarang dimainkan lagi, Lesung merupakan alat untuk menumbuk padi yang digunakan oleh petani-petani di pelosok pedesaan. Gejog lesung hingga saat ini tak banyak diminati oleh kaum muda. Bahkan, pementasan alat musik ini hanya terbatas pada acara-acara besar saja.

Dahulu kala konon alat musik ini merupakan hiburan para petani ketika selesai menumbuk padi di lesung, mereka kemudian bernyanyi dengan iringan ketukan alu (penumbuk padi) ke lesung kosong. Mereka bernyanyi sambil bercanda. Perkembangan zaman yang membuat petani tidak menggunakan lesung untuk menumbuk padi menjadi beras itu, sebabnya perlahan-lahan seni ini hampir tidak diminati lagi kaum muda kecuali orang orang tua. Lesung sendiri sebenarnya hanya wadah cekung, biasanya dari kayu besar yang dibuang bagian dalamnya. Gabah yang akan diolah ditaruh di dalam lubang tersebut. Padi atau gabah lalu ditumbuk dengan alu, tongkat tebal dari kayu, berulang-ulang sampai beras terpisah dari sekam. Para remaja tidak ada yang mau menekuni kesenian ini karena dianggap tidak modern. Padahal, kesenian ini semestinya dijaga oleh generasi muda. Karena melestarikan sebuah seni itu sama saja mengabdi atau berusaha mengangkat budaya ataupun seni yang sebelumnya ada. Dengan begitu apa yang menjadi milik kita tetap ada dan tidak diakui oleh siapa pun”.
Diketahui, seni Lesung adalah satu seni tradisional kuno yang hidup dan berkembang di pedesaan dan banyak dimainkan oleh para petani. Di tengah arus deras modernisasi ini mulai pudar dimakan zaman. Padahal budaya kotekan lesung sudah ada sejak zaman nenek moyang kita yang berabad-abad yang terjadi di berbagai daerah di Nusantara ini, hanya namanya saja yang berbeda. Ada yang menamakan Kotekan lesung, Gejok lesung, lesung jumengglung dan lainnya.
Musik ini identik dengan masyarakat petani atau pedesaan yang memang mata pencahariannya adalah petani (masyarakat agraris). Masyarakat pada saat itu memang masih sangat rukun dalam kehidupan bertetangga walau satu rumah dengan rumah yang lain sangat jauh, tidak seperti sekarang yang penuh berdesakan. Saling bahu membahu, bergotong royong, dengan rasa ikhlas tanpa imbalan, hanya sekedar makan itupun kalau ada, seperti mendirikan rumah, ada hajatan, kerja bakti lingkungan semua itu tidak ada rasa terpaksa tetapi dikerjakan dengan rasa ikhlas dan tanggung jawab.
Kotekan lengsung awalnya muncul dari kerukunan yang dibina sejak berabad-abad secara turun temurun dari daerah tersebut. Karena zaman dulu belum ada mesin penggiling padi, maka jika ada orang yang punya hajat tentunya orang kelas menengah ke atas, memerlukan beberapa orang untuk mengubah gabah/padi menjadi beras. Nah dari situlah masyarakat yang sudah sangat erat antar warga bermusyawarah. Akhirnya membuat alat yang bentuknya seperti perahu yang terbuat dari kayu yang berukuran sebesar pohon utuh. Kemudian dilubangi tengahnya persis seperti perahu nelayan.
Lesung tersebut digunakan untuk menguliti gabah menjadi beras dengan dibantu alat yang namanya alu atau antan. Yang disebut nutu atau ndeplok (menumbuk padi dengan antan). Nah biasanya acara gotong royong seperti ini sebelum dimulai dilakukan pemukulan lesung dengan alu bersama beberapa orang sehingga menimbulkan irama yang sangat khas bunyinya namun indah ditelinga, sambil menunggu teman yang alinnya. Setelah semua datang maka diadakan kenduri adat mereka untuk memohon berkah kepada Tuhan agar dalam punya hajat diberikan oleh Allah keselamatan yang dipimpin oleh sesepuh dusun tersebut.
Selesai kenduri, mereka langsung menumbuk padi yang sudah dimasukkan kedalam lesung terebut. Setelah ditumbuk menjadi beras maka ada petugas yang mengumpulkan beras tersebut, kemudian ditampi oleh petugas penampi beras dengan menggunakan tempeh atau tampah atau nyiru. Kemudian lesung diisi lagi dengan gabah lagi, begitu seterusnya.
Rata-rata orang terlibat dalam acara ini adalah para ibu-ibu yang sudah berumur, mereka sangat bersemangat dan gembira. Di saat tertentu ada waktu dipakai untuk memainkan musik dari kotekan lesung tersebut yang iramanya diatur oleh ketua ketekan tersebut. Jangan dikira walaupun musik tradisional yang sudah usang pun punya konduktur/derigen.
Pimpinan itu mengantur anak buahnya agar menghasilkan nada yang berbeda dari berbagai sudut lesung yang dipukul dengan alu tersebut. Sehingga kalau dipadu satu dengan yang lain enak juga didengarkan. Apalagi kalau mereka yang senang berjoget, barang kali cocok dengan irama itu.
Menari salah satu adegan yang menarik, banyak orang untuk menyaksikannya seni kotekan lesung ini adalah para pemukulnya yang juga melakukan gerak tari. Karena memang bukanlah penari profesional, adegan tari yang mereka sajikan justru terlihat lucu dan sering mengundang gelak tawa para penontonnya. Belum lagi tata rias wajahnya yang ala kadarnya, juga memunculkan kesan lucu. Pertunjukan ini bila dikelola dengan baik dan digabungkan dengan unsur entertainnya dapat menjadi salah satu pertunjukan wisata yang cukup potensial.
Kelucuan yang menghibur juga terlihat dari gerak tangan dan badan mereka yang tidak ‘neko-neko’ mengikuti alunan kotekan lesu yang ditabuh bertalu-talu. Mungkin karena mereka bukan penari profesional, maka gerakan tari mereka itu justru mengundang tawa penonton yang tengah menyaksikan pertunjukan seni lesung. Kreativitas tersebut terus berkembang bukan sekadar untuk mengusir kejenuhan dan keletihan, tapi terus berkembang menjadi simbol kegiatan sosial masyarakat agraris.
Sehingga alunan senandung kotekan lesung pada saat dulu juga bisa disebut sebagai irama musik prewedding di setiap keluarga petani di pedesaan. Karena alunan kotekan lesung biasanya akan terus berkumandang beberapa hari menjelang pesta hajatan pernikahan di sebuah keluarga di pedesaan. Di tengah masyarakat yang masih kental kerukunan sosialnya, setiap anggota masyarakat akan saling membantu menumbuk padi atau membuat aneka tepung secara sukarela. Nah di saat-saat jeda menumbuk padi atau membuat tepung tersebut, kotekan lesung secara spontan akan terdengar mengalun.
Meski demikian, kekinian dengan adanya teknologi pertanian memungkinkan hilangnya tradisi menumbuk padi yang menggunakan alu dan lesung dari kehidupan masyarakat pedesaan. Sejarah dan mitologi mencatat bagaimana alu dan lesung menyelamatkan Roro Joggrang dari hasrat Bandung Bondowoso yang akan meminangnya sebagai istri. Ketika Rara Jonggrang mendengar kabar bahwa seribu candi sudah hampir rampung, sang putri berusaha menggagalkan usaha Bandung Bondowoso. Ia membangunkan dayang-dayang istana dan perempuan-perempuan desa untuk mulai menumbuk padi. Ia kemudian memerintahkan agar membakar jerami di sisi timur. Maka langit terlihat seperti telah pagi hari, ayam-ayam jantan berkokok akibat alunan suara tumbukan padi dan cahaya merah hasil pembakaran jerami. Dengan peristiwa ini maka usaha Bandung Bondowoso gagal untuk memperistri Rara Joggrang.
Alunan suara alu dan lesung juga membangunkan ayam-ayam yang sedang tertidur hingga berkokok menandakan waktu telah pagi hari dan dijadikan patokan masyarakat untuk beraktifitas. Beberapa foto jaman kolonial menunjukkan bagaimana masyarakat desa, terutama perempuan sedang melakukan aktifitas menumbuk padi. Kegiatan ini dilakukan baik secara individu maupun berkelompok dan kebanyakan masyarakat melakukannya secara berkelompok diikuti oleh berbagai percakapan-percakapan sehari-hari.
Sekarang kita hanya bisa melihat aktifitas masyarakat menumbuk padi di sebagian kecil desa dengan wajah-wajah yang muram, dan juga masih bisa kita lihat di desa-desa wisata bukan sebagai aktifitas sosial masyarakat tetapi sebagai objek tontonan.
Di Jawa Barat, gejog lesung biasanya dilakukan saat acara seren taun, yaitu upacara adat panen padi masyarakat Sunda yang dilakukan tiap tahun. Istilah Seren Taun berasal dari kata dalam Bahasa Sunda seren yang artinya serah, seserahan, atau menyerahkan, dan taun yang berarti tahun. Jadi Seren Tahun bermakna serah terima tahun yang lalu ke tahun yang akan datang sebagai penggantinya. Dalam konteks kehidupan tradisi masyarakat peladang Sunda, seren taun merupakan wahana untuk bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala hasil pertanian yang dilaksanakan pada tahun ini, seraya berharap hasil pertanian mereka akan meningkat pada tahun yang akan datang.
Lebih spesifik lagi, upacara seren taun merupakan acara penyerahan hasil bumi berupa padi yang dihasilkan dalam kurun waktu satu tahun untuk disimpan ke dalam lumbung atau dalam bahasa Sunda disebut leuit. Ada dua leuit; yaitu lumbung utama yang bisa disebut leuit sijimat, leuit ratna inten, atau leuit indung (lumbung utama); serta leuit pangiring atau leuit leutik (lumbung kecil). Leuit indung digunakan sebagai sebagai tempat menyimpan padi ibu yang ditutupi kain putih dan pare bapak yang ditutupi kain hitam. Padi di kedua leuit itu untuk dijadikan bibit atau benih pada musim tanam yang akan datang. Leuit pangiring menjadi tempat menyimpan padi yang tidak tertampung di leuit indung.
Menurut catatan sejarah dan tradisi lokal, perayaan Seren Taun sudah turun-temurun dilakukan sejak zaman Kerajaan Sunda purba seperti kerajaan Pajajaran. Upacara ini berawal dari pemuliaan terhadap Nyi Pohaci Sanghyang Asri, dewi padi dalam kepercayaan Sunda kuno. Sistem kepercayaan masyarakat Sunda kuno dipengaruhi warisan kebudayaan masyarakat asli Nusantara, yaitu animisme-dinamisme pemujaan arwah karuhun (nenek moyang) dan kekuatan alam, serta dipengaruhi ajaran Hindu. Masyarakat agraris Sunda kuno memuliakan kekuatan alam yang memberikan kesuburan tanaman dan ternak, kekuatan alam ini diwujudkan sebagai Nyi Pohaci Sanghyang Asri, dewi padi dan kesuburan. Pasangannya adalah Kuwera, dewa kemakmuran. Keduanya diwujudkan dalam Pare Abah (Padi Ayah) dan Pare Ambu (Padi Ibu), melambangkan persatuan laki-laki dan perempuan sebagai simbol kesuburan dan kebahagiaan keluarga. Upacara-upacara di Kerajaan Pajajaran ada yang bersifat tahunan dan delapan tahunan. Upacara yang bersifat tahunan disebut Seren Taun Guru Bumi yang dilaksanakan di Pakuan Pajajaran dan di tiap wilayah. Upacara besar yang bersifat delapan tahunan sekali atau sewindu disebut upacara Seren Taun Tutug Galur atau lazim disebut upacara Kuwera Bakti yang dilaksanakan khusus di Pakuan.
Kegiatan Seren Taun sudah berlangsung pada masa Pajajaran dan berhenti ketika Pajajaran runtuh. Empat windu kemudian upacara itu hidup lagi di Sindang Barang, Kuta Batu, dan Cipakancilan. Namun akhirnya berhenti benar pada 1970-an. Setelah kegiatan ini berhenti selama 36 tahun, Seren Taun dihidupkan kembali sejak tahun 2006 di Desa Adat Sindang Barang, Pasir Eurih, Kecamatan Taman Sari, Kabupaten Bogor. Upacara ini disebut upacara Seren Taun Guru Bumi sebagai upaya membangkitkan jati diri budaya masyarakat Sunda.
Di Cigugur, Kuningan, upacara seren taun yang diselenggarakan tiap tanggal 22 Rayagung-bulan terakhir pada sistem penanggalan Sunda, sebagaimana biasa, dipusatkan di pendopo Paseban Tri Panca Tunggal, kediaman Pangeran Djatikusumah, yang didirikan tahun 1840. Sebagaimana layaknya sesembahan musim panen, ornamen gabah serta hasil bumi mendominasi rangkaian acara. Masyarakat pemeluk kepercayaan Sunda Wiwitan tetap menjalankan upacara ini, seperti masyarakat Kanekes, Kasepuhan Banten Kidul, dan Cigugur. Kini setelah kebanyakan masyarakat Sunda memeluk agama Islam, di beberapa desa adat Sunda seperti Sindang Barang, ritual Seren Taun tetap digelar dengan doa-doa Islam. Upacara seren taun bukan sekadar tontonan, melainkan juga tuntutan tentang bagaimana manusia senantiasa bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, terlebih di kala menghadapi panen. Upacara ini juga dimaksudkan agar Tuhan memberikan perlindungan di musim tanam mendatang.
Rangkaian ritual upacara Seren Taun berbeda-beda dan beraneka ragam dari satu desa ke desa lainnya, akan tetapi intinya adalah prosesi penyerahan padi hasil panen dari masyarakat kepada ketua adat. Padi ini kemudian akan dimasukkan ke dalam leuit (lumbung) utama dan lumbung-lumbung mping. Pemimpin adat kemudian memberikan indung pare (induk padi/bibit padi) yang sudah diberkati dan dianggap bertuah kepada para pemimpin desa untuk ditanan pada musim tanam berikutnya. (rk)
Berbagi Artikel :

0 komentar:

Tuliskan Komentar Anda Tentang Artikel Diatas

 
Support by : The-Kiel Admin MaNg RaKa
Copyright © 2012. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template
Best View using Mozilla Firefox version 3 or higher.