Jalan di Pasar Loji Makin Hancur - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » » Jalan di Pasar Loji Makin Hancur

Jalan di Pasar Loji Makin Hancur

Written By Mang Raka on Jumat, 10 Agustus 2012 | 20.28

Jalan rusak di pasar Loji memperparah kemacetan
lalu lintas. Kondisi jalan yang terus memburuk,
diharapkan masyarakat segera diperbaiki dan melarang
angkutan berat melintasi jalan tersebut.
-Picu Kemacetan Lalu Lintas

TEGALWARU, RAKA - Pasca dijadikan jalan alternatif truk pengangkut batu split pertambangan di gunung Cintalanggeung, kini jalan di pasar Loji semakin parah. Bukan saja menimbulkan kemacetan, jalan tersebut juga mengancam kesehatan warga karena debu yang dihasilkan sangat pekat.

"Bukan hanya rusak dan ngebul saja. Saya lebih merasa jalan ini merupakan satu-satunya aset yang ada di daerah ini, sekarang dijadikan jalur pengganti angkutan hasil produksi dari perusahaan penambangan batu yang ada di gunung Cintalanggeung. Hingga kini jalan sudah terlihat retak, mungkin dengan seperti demikian sudah jelas pasti rusak, apalagi jika hal ini terus dibiarkan tanpa ada pencegahan dari pihak berwenang sama sekali, " ungkap Tatang (40), seorang pedagang di lingkungan pasar Loji, Kamis (9/8) kemarin. 
Menurut Tatang, dijadikannya jalan pasar Loji sebagai jalur alternatif pengangkut batu split, sering menimbulkan kemacetan total. "Banyaknya armada pengangkut tersebut berdampak barang dagangan di kios, semuanya menjadi cepat kotor (kumuh). Saya berharap pemerintah harus mengambil kebijakan yang jelas, serta lebih mengutamakan kepentingan umum daripada perusahaan semata," tuturnya.
Sansan (25), pemuda Cikelak, Desa Cintawargi, menyampaikan, struktur perkerasan jalan pada dasarnya dirancang untuk rusak sesuai dengan usia layanannya, namun selama usia layanannya atau waktu yang telah ditentukan, tidak seperti di jalur ini semuanya tidak jelas. Sebab sebelum digunakan jalur alternatif untuk armada angkutan batu secara terus menerus, hingga kini menjadi rusak. "Sementara jalan yang sudah lama rusak saja sampai kini belum diperbaiki saja. Seperti terusan jalur ini, dan kini satu-satunya ruas jalan yang masih mulus menjadi rusak, siapa yang akan bertanggungjawab," ungkapnya.
Padahal jalan itu harus dipelihara secara rutin untuk meningkatkan kemampuan layanan struktur perkerasan, secara umum pemeliharaan jalan terdiri dari pemeliharaan rutin dan pemeliharaan berkala, bergantung pada frekuensi pengerjaannya. "Sementara untuk di daerah kita tidak ada," lanjutnya.
Sansan juga menyebutkan pemeliharaan rutin adalah pemeliharaan yang dilakukan sepanjang tahun dan meliputi pekerjaan ringan, seperti penambalan dan pembersihan drainase di pinggir jalan. Sementara pengerjaan pemeliharaan berkala terjadi per lima tahun, yang meliputi pekerjaan overlay lapisan permukaan dan pemarkaan ulang.
Pekerjaan pemeliharaan ini mampu untuk mengembalikan kapasitas struktur perkerasan yang telah terdegradasi oleh pemakaian normal selama masa layanannya, ke kapasitas struktur di awal masa layanan. Sansan berharap pemerintah dapat melakukan pemeliharaan seperti demikian, tidak seperti pada kenyataan sekarang ini.
Di tempat lain, Ambar (38) yang sama-sama mempunyai aktifitas di lingkungan pasar saat ditemui mengatakan, pemerintah tidak berpihak pada masyarakat. "Dengan mencarikan jalan atau solusi untuk perusahaan PT Atlasindo berarti mengorbankan masyarakat semua," tuturnya.
Dia juga menerangkan, pengecoran jalur di Tegalmalang jelas untuk perusahaan tersebut. "Kenapa sama sekali tidak mau rugi, padahal jalan adalah infrastruktur terpenting dalam sistem transportasi darat yang disediakan oleh pemerintah, dengan biaya yang didapat dari uang pajak dari rakyat. Akan tetapi ketika rakyat menyuarakan permasalahan tersebut seolah-olah melawan hukum," ujarnya.
Makanya, seluruh lapisan masyarakat mempunyai kewajiban untuk menjaga dan memelihara jalan agar tetap berfungsi secara optimal. Perencana dan pelaksana konstruksi jalan berkewajiban untuk mendesain dan membangun jalan dengan baik dan benar, sementara pengguna jalan berkewajiban untuk menggunakan jalan sesuai dengan perencanaan, baik dari beban yang diangkut maupun penggunaan lahan di sekitar jalan. "Pemeliharaan dan penggunaan jalan yang baik dan benar, menuntut peningkatan rasa kepemilikan bersama agar kita bisa bersama-sama memelihara fungsi jalan," katanya. (ark)
Berbagi Artikel :

1 komentar:

  1. Tidak ada lagi kalimat untuk mengungkapkan penderitaan rakyat pangkalan. sebagai seorang muslim hanya dapat berdo'a, semoga para pengambil kebijakan di kab. karawang selamat dari siksa api neraka atas ke dzoliman terhadap rakyat pangkalan/tegalwaru.

    BalasHapus

 
Support by : The-Kiel Admin MaNg RaKa
Copyright © 2012. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template
Best View using Mozilla Firefox version 3 or higher.