Bercinta di Sungai, Pasutri Diseret Hansip - Harian Umum Radar Karawang
Berita Terbaru:
Home » , » Bercinta di Sungai, Pasutri Diseret Hansip

Bercinta di Sungai, Pasutri Diseret Hansip

Written By Mang Raka on Kamis, 02 Agustus 2012 | 22.15

-Gegerkan Warga Mekarbuana

TEGALWARU, RAKA - Apes nasib MR dan SR. Maunya bermesraan di tepi sungai Cigeuntis justru harus berurusan dengan aparat Desa Mekarbuana, Kecamatan Tegalwaru, Rabu (1/8) kemarin.

Menurut keterangan yang berhasil dihimpun RAKA di lapangan, pasangan mesum yang mengaku suami istri tersebut merupakan warga Pasir Angin, Kecamatan Rawamerta. Mereka ketahuan sedang berhubungan intim di lokasi Muara Tilu, jalan antara Parak Badak Jayanti, tepatnya di pinggir sungai Cigeuntis, oleh hansip Desa Mekarbuana, Oyon. "Saat melihat perbuatan tidak senonoh di bulan puasa, saya tersentak dan langsung menghentikan aksi pasangan itu. Lalu saya membawa mereka ke kantor desa," ujarnya.
Diceritakan oleh kaur desa, Casmugi, awalnya pasanagan mesum itu dalam proses pisah ranjang, mungkin karena sudah cukup lama tidak berhubungan, akhirnya ada keinginan untuk bertemu. "Yang jelas pasti rindu. Ada pribahasa kalau ganteng inget gantengnya, kalau galak inget galaknya, yang pasti saling rindu. Sebab tanpa itu gak akan ada keinginan untuk bertemu. Namun hubungan mereka kurang mendapat ridho dari orang tuanya, sebab suami tersebut terbilang cukup galak, hingga suami ini mengajak bertemu di suatu tempat yang mereka janjikan. Sementara si istri ini mempunyai prasangka bahwa suaminya akan memberikan uang untuk putranya, yang merupakan anak mereka sendiri selama hubungan mereka harmonis. Akan tetapi ternyata si suami ini malah mengajak berwisata ke daerah Loji, berangkat dari Selasa (31/7) kemarin, hingga tersergap oleh Oyon, Rabu (1/8) kemarin," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Desa Mekarbuana, Andi, berharap pada semua pengunjung agar tidak lagi berbuat seronok, kalaupun pasangan resmi. Apalagi saat ini bulan puasa, meski suami istri haram untuk berhubungan intim saat siang hari. "Begitu pula sangat tidak diharapkan kalaupun di luar bulan Ramhadan ini, sebab kita merupakan pasangan manusia bukan pasangan hewan. Apalagi pada pasangan tidak resmi atau kumpul kebo. Selain haram juga akan dilanjutkan pada proses hukum," tuturnya.
Maka atas kejadian inipun sangat diharapkan pada petugas pengelola wisata yang ada dan aparatur desa, serta masyarakat umum agar mengawasi lingkungan. "Jangan sampai kecolongan oleh pengunjung berbuat dosa atau mengotori daerah kita," ungkapnya.
Ia melanjutkan, tantangan paling berat membangun keluarga sakinah di tengah masyarakat modern adalah menghadapi penyakit manusia modern. Secara global biasanya ada tiga lingkaran lingkungan yang membentuk karakter manusia, keluarga, sekolah dan masyarakat. Namun meski ketiganya saling mempengaruhi, akan tetapi pendidikan keluarga paling dominan mempengaruhinya. "Tak sedikit ada orang berasal dari keluarga baik-baik, namun ketika merajut rumah tangganya sendiri harus mengalami perceraian," tuturnya. (ark)
Berbagi Artikel :

1 komentar:

 
Support by : The-Kiel Admin MaNg RaKa
Copyright © 2012. Harian Umum Radar Karawang - All Rights Reserved
Template by CreatingW Published by M-Template
Best View using Mozilla Firefox version 3 or higher.